Assalamu'alaikum wr. wb..Selamat datang di blog ane ya gan, Semoga bermanfaat ya.. Terimakasih

Ads 468x60px

This is default featured slide 1 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat

This is default featured slide 2 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat

This is default featured slide 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat

This is default featured slide 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat

This is default featured slide 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat

Minggu, 13 Juli 2014

Surat Untuk Sejawat Kedokteran


SURAT DARI SEJAWAT

Disclaimer: Sebenarnya saya sudah "berjanji" pada diri sendiri untuk tidak menulis ramai-ramai soal dokter lagi. Bukan apa-apa, jujur, saya capek juga membaca beratus komentar negatif yang masuk tiap harinya. Saya percaya, when negativity surrounds you, you can not produce a positive life. Bukan berarti juga saya menutup mata dan hati terhadap pandangan orang lain. Engga sama sekali, selama disampaikan dengan baik dan benar. (Baca: Bukan cuma komentar dari orang yang bahkan tidak mau menuliskan nama aslinya hanya untuk menyerang dengan kata-kata kasar). Kalau mau berdiskusi, boleh-boleh saja kok:)

Tapi rupanya tangan saya gatel juga nih ingin menulis setelah membaca respons banyak orang terhadap aksi dokter di timeline Twitter, Path atau Facebook. Seorang teman mengingatkan saya, people will always find something (bad) to say about us and to judge, so why bother? Benar juga, toh semua orang bebas beropini kan?:)

Rekan sejawat yang saya hormati,
Kemarin, tanggal 27 November 2013, kita sebagai dokter se-Indonesia melakukan aksi solidaritas. Ada yang berdoa bersama, tafakur sampai membagikan bunga. Kita memasang pita hitam di lengan jas putih sebagai tanda berbela sungkawa atas tindakan kriminalisasi profesi kita. Sungguh sangat"mengerikan" menyandang gelar dokter di negara tercinta ini. Niat yang baik tak lagi cukup. Usaha yang maksimal tak lagi dinilai. Menyedihkan mengetahui setiap saat kita bekerja menolong orang, ada kemungkinan besar pula kita dianggap sebagai pembunuh.  Yang saya ketahui, aksi solidaritas kemarin memang disepakati serentak agar memberikan efek massive pressure pada pemerintah untuk segera membenahi sistem pelayanan kesehatan agar kita sebagai dokter dapat merasa aman saat bekerja. Jika sistem pelayanan kesehatan sudah baik, tentu tak hanya dokter yang senang, pasien notabene masyarakat pun akan ikut sejahtera. Kita ingin sekali orang-orang mulia yang berpengaruh di pemerintahan mengetahui betapa acak-acakannya sistem pelayanan kesehatan kita.

Rekan sejawat,
Banyak reaksi yang menyambut aksi kita kemarin. Lihat saja di timeline twitter, Facebook atau Path. Hampir semua orang berlomba-lomba menghujat profesi kita. Tak sedikit pula media yang memberitakan dengan tidak berimbang. "Dokter Mogok, Pasien Terlantar." Begitu bunyi banyak headline media massa, diperburuk oleh orang-orang yang berkoar di sosmed tanpa mau bersusah payah meng-kroscek benar tidaknya berita tsb. Tidak tahukah mereka bahwa kita tidak pernah berniat menelantarkan pasien? Tidak mengertikah mereka yang menghujat kita dengan membawa sumpah dokter (entah mereka tahu benar bunyinya atau tidak), bahwa aksi yang hanya dijalankan beberapa jam itu tetap menomor satukan pelayanan? Pelayanan emergency tetap dibuka, pasien gawat darurat masih dilayani.  Di tempat saya bertugas, aksi solidaritas ini hanya berjalan selama 25 menit. Pasien rawat jalan (baca: TIDAK emergency) ditunda pelayanannya 25 menit.  Hanya 25 menit. Kita belajar seumur hidup, mengorbankan banyak hal, bekerja keras tak kenal waktu, untuk apa lagi kalau bukan untuk pasien? Bagaimana bisa kita menelantarkan mereka?

Rekan sejawat,
Setidaknya ada satu hal yang bisa kita catat dari reaksi masyarakat. Bahwa profesi kita sangat dibutuhkan. Bahwa walaupun dihujat besar-besaran, dokter masih sangat diperlukan.  Semoga hal ini bisa menyadarkan pemerintah untuk sesegera mungkin membenahi sistem pelayanan kesehatan.

Rekan sejawat,
Saya tahu betapa sedihnya kita semua mengetahui profesi kita, yang kita usahakan seumur hidup dengan sekian pengorbanan, dihujat oleh orang banyak. Saya tahu, bagaimana marahnya kita saat semua orang mencaci-maki dokter. Saya juga mengerti, mangkel sekali rasanya ketika masyarakat menjelek-jelekkan profesi dokter.  Saya tahu, banyak pemberitaan tak berimbang yang membuat profesi dokter tambah dijudge ini-itu. Percayalah, saya mengerti. Tapi please, jangan tersulut emosi. Banyak rekan sejawat yang menulis status di sosmed "Rasain tuh gimana rasanya engga ada dokter!" atau "Kalau sakit, engga usah ke dokter ya! Ke dukun aja sekarang!" dan komentar kasar sejenis lainnya. Walaupun kesal juga, saya tetap merasa pernyataan seperti ini tidak pantas. Bagaimanapun, selain pointless, komentar-komentar kasar hanya menambah rusuh suasana. Jangan jugalah mendiskreditkan profesi lain. Kita sama-sama manusia yang membutuhkan orang lain. Tanpa polisi, wartawan, hakim, pengacara, jaksa, buruh, tentu kita tidak bisa bekerja sebagai dokter dengan baik. Tunjukkanlah kalau kita memang tidak arogan, seperti apa yang dianggap banyak orang. Buktikanlah kalau memang kita berpendidikan. Tidak usah menanggapi komentar kasar asal lewat atau asal ngomong tanpa tujuan dengan balasan komentar yang sama kasarnya.

Rekan sejawat,
Reaksi masyarakat terhadap profesi kita memberikan kita banyak hikmah. Kita disadarkan pentingnya komunikasi dalam menghadapi pasien, dan dituntut untuk bekerja lebih hati-hati lagi.
Sekali lagi, jangan tersulut emosi. Ingat lagi apa sih tujuan kita ingin menjadi dokter? Apa tujuan kita bekerja sedemikian kerasnya? Apakah untuk status supaya kita bisa menganggap masyarakat tak berdaya tanpa kita? Apakah untuk penghargaan? Atau memang untuk menolong?
Saya tahu, sulit untuk menghapus citra negatif profesi kita di mata masyarakat. Tapi, kita bisa mulai dari sekarang, dari diri kita sendiri. Hal-hal besar selalu berawal dari hal kecil bukan?

Semua orang bebas beropini, termasuk yang negatif. Tak perlu kita ikut negatif pula. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang menghujat kita? Negativity only leads you nowhere. Tetap semangat, hati-hati dalam bekerja, tetap percaya Gusti Allah mboten sare. Bahkan sebutir niat baik pun akan dihitung kelak. Toh, in the end, its the only thing that matters, right?:)

Raihlah Sukses dengan Mudah !!!


20 Rahasia Menjadi Orang Sukses

orang sukses
1. Putuskan Untuk Menjadi Orang yang Berprestasi
Kejarlah impian anda. Jadikan kehidupan anda sebuah mahakarya dengan bersedia membayar harga kesuksesan. Orang berprestasi tahu ada harga yang harus dibayar. Dan mereka bersedia berkorban, berjuang, serta bekerja keras tanpa jaminan kesuksesan apa pun demi mewujudkan semua impian mereka.
2. Manfaatkan Semua yang Akan Membantu Anda Meraih Tujuan
Orang sukses terus-menerus mencari apa yang bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan. Mereka melihat ke depan agar dapat memosisikan diri di tempat terbaik ketika kesempatan muncul. Mulailah berpikir ke depan. Dengan berpikir dan berencana ke depan, anda akan mendapakan keuntungan dalam persaingan.
3. Sikap Anda Menentukan Posisi Anda
Sikap anda adalah pola pikir anda. Cara anda melihat segala sesuatu. Apakah anda lebih berfokus pada kemungkinan ataukah tantangan. Pikiran positif tidak menjamin kesuksesan. Tetapi, dengan pikiran positif, peluang sukses anda jauh lebih besar.
4. Efektifkan Hukum Rata-Rata Bagi Anda
Semakin sering anda gagal, semakin besar kesempatan anda untuk akhirnya sukses. Anda bahkan bisa menggagalkan diri sendiri supaya anda sukses. Karena setiap kali gagal, anda mendapatkan pengalaman.
5. Yakinlah Pada Diri Sendiri dan Yakinlah Anda Bisa Meraih Impian Anda
Jika anda yakin sesuatu itu mungkin dan bersedia melakukan apa pun, selama apa pun, yang diperlukan untuk menyelesaikannya, kesuksesan hanyalah masalah waktu. Anda bisa meningkatkan keyakinan diri melalui buku yang anda baca, CD yang anda dengarkan, dan orang-orang dengan siapa anda berhubungan. Jika menaruh hal-hal baik dalam pikiran, anda akan menjadi lebih kuat dan lebih yakin pada diri sendiri.
6. Gunakan Kekuatan Memilih Anda
Apa pun keadaannya, anda memiliki kekuatan untuk memilih bagaimana akan bereaksi. Anda memiliki kekuatan untuk memilih dengan siapa anda akan berhubungan, apa yang akan anda lakukan dengan waktu luang anda, buku apa yang akan anda baca, tindakan apa yang akan anda ambil dalam lima menit ke depan untuk membawa anda lebih dekat ke tujuan. Impian anda ada di sana untuk diwujudkan. Apakah anda akan menciptakan kehidupan yang luar biasa? Hal itu adalah pilihan anda.
7. Pikirkan Hal-Hal yang Memberdayakan
Apa yang anda pikirkan menentukan apa yang anda lakukan. Apa yang terus menerus anda pikirkan akan menentukan posisi akhir anda. Itulah sebabnya berhubungan dengan orang-orang berpikiran sama sangatlah penting. Dengan menciptakan sebuah tim impian dan secara reguler berhubungan dengan mereka, anda akan mempersiapkan diri untuk sukses dengan bantuan peer-pressure (tekanan teman sebaya) yang positif.
8. Yakinlah Bahwa Semua yang Anda Alami Ada Maksudnya
Belajarlah melihat sinar terang di balik setiap awan mendung. Setiap tantangan mengandung pelajaran besar. Tantangan ditujukan untuk memperlambat kita agar kita punya cukup waktu untuk mempelajari berbagai hal yang perlu kita pelajari dalam perjalanan menuju impian kita.
9. Fokuskan Semua Upaya Anda
Ketahui apa yang paling penting bagi anda dan fokuskan semua upaya anda untuk meraihnya. Jika anda memfokuskan semua upaya pada satu tujuan, kemungkinan sukses anda hampir pasti. Jika anda membagi fokus pada dua tujuan, kemungkinan sukses anda turun menjadi 66%. Jika anda memiliki tiga tujuan, kemungkinan sukses anda tinggal 25%. Orang berprestasi tinggi berfokus pada satu tujuan. Setelah meraihnya, mereka beralih ke tujuan selanjutnya.
10. Cara Menjadi Percaya Diri
Kepercayaan diri muncul dari persiapan. Kepercayaan diri tidak bisa dipalsukan. Kepercayaan diri muncul dari melatih suatu keterampilan hingga menguasainya. Begitu menguasai suatu keterampilan, anda pun merasa percaya diri. Begitu menguasai bidang anda, anda akan merasa percaya diri. Dengan kepercayaan diri, anda bisa mulai meraih berbagai hal yang tak pernah anda bayangkan.
11. Singkirkan Pikiran Negatif Sejak Awal
Tantangan terbesar dalam perjalanan menuju kesuksesan adalah menguasai diri sendiri. Apa pun yang sedang anda lakukan, akan selalu ada saat di mana anda meragukan diri sendiri, mengalami konflik batin, serta ingin melakukan berbagai hal yang akan merintangi anda mencapai tujuan. Teruslah bertanya kepada diri sendiri, “Apa selanjutnya yang bisa aku lakukan sekarang agar lebih dekat dengan tujuanku?”
12. Kendalikan Kehidupan Anda Sendiri
Anda mengendalikan semua keputusan anda. Setiap kali memberikan kendali kepada orang lain, anda berhenti menjadi tuan dari takdir anda sendiri. Setiap kali mengambil tanggung jawab pribadi atas tindakan anda, anda mempertahankan kendali. Ambil tanggung jawab dan anda pun akan memegang kemudi kapal kehidupan anda sendiri. Andalah yang memutuskan apa yang akan terjadi.
13. Pelajari Orang Lain Untuk Menciptakan Situasi yang Sama-sama Menguntungkan
Membangun keterampilan berhubungan dengan orang sangatlah penting, karena melalui orang lain anda bisa meraih jauh lebih banyak daripada dengan usaha sendiri. Pandailah menunjukkan kepada orang lain bagaimana mereka bisa benar-benar mendapatkan keuntungan dengan bergabung bersama anda. Pelajari keterampilan kepemimpinan sehingga anda bisa mengajak orang untuk membantu anda meraih misi dalam kehidupan.
14. Kembangkan Keberanian Untuk Sukses
Keberanian berarti menjadi lebih besar daripada keadaan kita. Keberanian bukan berarti tidak ada rasa takut. Keberanian berarti bertindak meskipun merasa takut. Agar sukses dalam kehidupan, anda memerlukan dua jenis keberanian: keberanian untuk bertindak dan keberanian untuk bertahan. Keberanian untuk bertindak muncul dari keyakinan terhadap diri sendiri. Keberanian untuk bertahan muncul dari keinginan untuk sukses.
15. Senti demi Senti, Kesuksesan itu Mudah. Meter demi Meter, Kesuksesan itu Sulit
Tidak ada yang namanya kesuksesan kilat. Anda harus membangun landasan dari hari ke hari untuk waktu yang sangat, sangat lama. Anda harus memetik banyak kemenangan pribadi sebelum mengalami kemenangan publik. Rumah dibangun dengan satu batu bata setiap kali. Pertandingan sepak bola dimenangkan dengan satu permainan setiap kali. Bisnis dibangun dengan satu konsumen setiap kali. Setiap pencapaian besar adalah hasil dari banyak pencapaian yang lebih kecil.
16. Belajarlah dari Kesalahan Anda dan Posisikan Diri Untuk Menang
Kesempatan datang dan pergi. Kehidupan memiliki siklus yang datang dan pergi seperti ombak di lautan. Saat ketinggalan ombak, peselancar tidak membuang energi yang berharga dengan merasa kecewa. Ia belajar dari kesalahan, melakukan penyesuaian, dan memosisikan diri agar dapat memanfaatkan ombak berikutnya dengan sebaik-baiknya. Jadilah seorang peselancar kesempatan. Tempatkan diri pada posisi untuk menang.
17. Seberapa Besar Anda Menginginkan Impian Anda?
Seberapa besar anda menginginkan sesuatu akan menentukan apakah anda akan mendapatkannya. Jika keinginan anda cukup besar, tidak akan ada yang menghentikan anda dan anda akan menemukan jalan. Keinginan memberi anda kekuatan untuk membayar harga kesuksesan. Anda dapat membangun, meningkatkan, dan mempertahankan keinginan dengan membayangkan secara jelas keinginan itu, menggunakan affirmasi secara tepat, dan berhubungan dengan orang-orang berpikiran sama.
18. Lakukan Sesuatu yang Anda Nikmati
Temukan bidang yang cocok bagi anda. Lakukan sesuatu yang anda nikmati. Lakukan sesuatu yang mau anda lakukan tanpa dibayar. Kehidupan terlalu singkat untuk digunakan melakukan hal lain. Jika mencintai pekerjaan anda, anda pasti akan sukses.
19. Cara Menggandakan Pendapatan Anda
Ambil rata-rata penghasilan tahunan lima orang dengan siapa anda paling sering menghabiskan waktu, maka anda mendapatkan penghasilan tahunan anda. Sembilan puluh persen kesuksesan ditentukan oleh dengan siapa anda bergaul. Mengapa demikian? Karena cara berpikir orang sukses berbeda dari orang tidak sukses, dan anda menjadi seperti orang dengan siapa anda berhubungan. Jika anda ingin menggandakan pendapatan, mulailah bergaul dengan orang-orang berpendapatan dua kali lebih besar daripada anda.
20. Raihlah Medali Emas!
Orang berprestasi tinggi tidak puas dengan kualitas menengah. Mereka tidak mau menjadi nomor dua. Mereka tidak puas sekadar berbuat seperti cara orang lain sebelum mereka. Para pemenang selalu ingin menaikkan standar. Mereka ingin unggul dan ingin apa pun yang mereka lakukan berkualitas nomor satu. Mereka melangkah lebih jauh. Mereka melakukan upaya tidak biasa dalam menjalani tugas biasa. Berfokuslah untuk melakukan apa pun dengan kesempurnaan, dan anda pun akan membangun reputasi yang akan membawa anda ke puncak.

Tentang Rasa Seorang Calon Dokter


Tentang Rasa : Seorang Calon Dokter

ada yang bilang, menjadi seorang mahasiswa kedokteran itu enak. pekerjaan yang sudah terjamin, finansial yang tak diragukan, kedudukan yang mulia, dll. bagaimana dengan realitanya? bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa kedokteran versi seorang mahasiswa kedokteran?

Aku masih ingat betul, dulu untuk berada di jalan ini, setidaknya aku harus menyisihkan 50 orang lebih, bahkan diantaranya adalah teman dekatku sendiri, rekan seperjuangan. Pasalnya hanya sekitar 100 kursi yang tersedia dari 5000 orang lebih yang mendaftar di fakultas yang kata kebanyakan orang 'bergengsi' ini, Fakultas Kedokteran. Dengan otak dan kemampuan ekonomi yang pas-pasan, berjibaku di pertarungan ujian ini bagiku sangat melelahkan. Palpitasi, keringat dingin, khawatir berlebih terkadang membersamai moment-moment pra maupun pasca ujian saringan masuk perguruan tinggi ini. Satu awalan sulit, yang akhirnya telah kulewati. 

Euphoria akhirnya sempat kurasakan tatkala perjuangan ini membuahkan hasil. 260143 muncul dilayar monitor komputer tanda kelulusan ku di ujian saringan masuk Fakultas Kedokteran yang aku pilih. Euphoria menjadi mahasiswa baru kedokteran, namun sayang tak berlangsung lama. Aku masih ingat betul, hari-hari ku kemudian ditemani textbooks tebal berbahasa inggris, yang terkadang isinya pun sulit aku pahami. Learning issue hampir 3 kali seminggu menghidupkan suasana kamar ku tiap malam nya. Modul-modul laboratorium dan skill lab berbahasa inggris selalu minta dipahami. Belum lagi soal ujian berbahasa inggris nya ditiap 3 bulan dan 6 bulan sekali. Tak tanggung-tanggung, bisa sampai 200 soal berbahasa inggris dikeluarkan, hanya diberi waktu 1 menit aku mengerjakan setiap soalnya. Pantas saja ujian TOEFL diatas 550 menjadi syarat wajib kenaikan tingkatku. Untung saja di ujian ke 3 aku bisa lulus dulu. 

Satu lagi yang aku masih ingat betul, ujian lisan. Hampir sekitar 36 kasus yang dipelajari selama satu tahun diujikan dalam waktu 20 menit oleh dua dokter penguji. Dan yang membuat mahasiswa di angkatanku hampir depresi adalah ketika kami harus menghadapi kenyataan, bahwa 50 % nilai kami di tahun itu ditentukan oleh ujian tersebut. Belum lagi ujian praktik yang harus dihadapi, hampir 36 keterampilan klinis yang dipelajari selama setahun, diujikan di 15 stasiun dan harus lulus semua. Gagal di ujian ini setelah satu kali kesempatan remedial membuat kami tak bisa naik ke tingkat selanjutnya. Berbeda dengan fakultas lain, jika kau tak lulus satu mata kuliah, bukan hanya mata kuliah itu saja yang kau ulang, melainkan seluruh mata kuliah. Ibarat tak naik kelas saja ketika masa SMA dulu. 

Ada lagi yang masih aku ingat betul, menjadi mahasiswa tingkat akhir. Mungkin kau tahu, di fakultas lain mahasiswa tingkat akhir tentunya akan fokus dengan tugas akhir atau skripsinya. Begitupun dengan kami, hanya saja beda nya, ketika mahasiswa fakultas lain sudah tak ada mata kuliah yang diambil, aku dan kawan-kawan ku masih ada kuliah, tugas, maupun ujian. Belum lagi bulak-balik Bandung-Jatinangor untuk bimbingan berasa jadi warna yang semakin melengkapi. Semacam tingkat terjenuh dalam hidup dihadapi disini. 

Sulit kedua aku temui, tentang bagaimana bertahan menjalani proses pendidikan, apalagi untuk mendapatkan hasil memuaskan, "dengan pujian" di wisuda Sarjana Kedokteran. 

Masih ada yang aku ingat betul, kali ini tentang aktivitas sosial dan jadwal liburan. Serempak hampir sama kawan-kawan ku di fakultas maupun universitas lain memasuki jadwal libur, rencana backpaker-an, reuni, atau sekadar jalan-jalan banyak mereka persiapkan. Giliran aku mendapat ajakan, kedokteran sedang memasuki fase ujian. Akhirnya hanya bisa berujar selamat jalan dan mengucap salam, cukup menyedihkan memang. Giliran aku libur, waktunya mereka untuk kembali memulai masa perkuliahan, nasib memang. Belum lagi dilema yang dihadapi ketika diamanahi jabatan kemahasiswaan di tingkat Universitas, terkadang rapat ditemani bahan ujian, atau bahkan harus mendelegasikan tugas untuk advokasi ke pihak rektorat karena harus ujian. Ada lagi yang juga aku ingat betul, tentang izin meninggalkan perkuliahan. Hanya 80 % dengan alasan sakit yang disertai surat dokter, acara keluarga, atau ditugaskan pihak Fakultas. Lebih dari itu, atau izin melanggar syarat tersebut, silahkan untuk tak diperkenankan mengikuti ujian, dan kembali mengulang tahun depan. 

Sulit selanjutnya yang aku temui, tentang bagaimana menjaga performa sebagai makhluk sosial, bersinergi dengan yang lain, dan menjaga keseimbangan antara akademik dengan aktivitas kemahasiswaan. 

Sulit memang, namun bukan berarti tak bisa dilewati. Gelar Sarjana Kedokteran yang membersamai namaku seolah menjadi bukti kesungguhan, bahwa sulitnya proses pendidikan bisa diselesaikan. Euphoria kembali dirasakan, Graha Sanusi seolah jadi saksi bisu perayaan aku dan ratusan wisudawan lain nya . Ucapan selamat dari belasan rekan yang sengaja hadir, dan rangkaian bunga yang juga kuterima semakin membuat khidmat suasana. Terlihat di wajah rekan dari fakultas lain binar mata menjemput masa depan, melanjutkan sekolah S2 atau mencari pekerjaan. Sementara tak lama kemudian, aku harus kembali menghadapi kenyataan, untuk menjadi relawan kemanusiaan, dalam misi pendidikan. (baca: koas, atau dokter muda.) 

Masih aku ingat betul, tak lama setelah prosesi wisuda, satu per satu rekan satu angkatan dari fakultas lain sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan beberapa diantaranya sudah memberikan undangan pernikahan. Harus gigit jari, berkaca pada diri yang masih disubsidi penuh oleh keluarga. Sulit lain yang kemudian dirasakan, ketika materi masih jadi bahan pertimbangan utama dalam berkegiatan, ketika membahagiakan orang tua masih jadi harap dan doa terbesar yang masih aku janjikan , ketika harus bersabar untuk melamar gadis yang disukai, atau bahkan mungkin contoh ekstremnya ketika harus merelakan seseorang yang kita harapkan didahului dilamar orang. 

Akupun masih ingat betul, dengan peran dokter muda yang dijalankan, tanggung jawab semakin besar harus ditunaikan. Follow Up pasien, ikut operasi, ikut jaga poliklinik, belum lagi bed site teaching, ngerjain laporan kasus, bikin referat, kuliah, dan masih tetap ada ujian. Nilai minimum harus B, kurang dari itu, silahkan mengulang. Belum lagi ada jaga malam IGD maupun Ruangan, masuk koas biasa jam 7 sampai jam 4 sore, lanjut jaga malam dari jam 4 sore sampai jam 6 pagi esoknya, kemudian lanjut aktivitas esoknya sampai jam 4 sore lagi. Begitu ritme hidup ku ketika memasuki jadwal jaga, ibarat jadi zombie keesokan nya. Belum lagi ketika harus ditempatkan di jejaring, bisa di Cibabat, Ujung Berung, Garut, Sumedang, Majalaya, Subang, bahkan mungkin nanti sampai Rancabuaya. 

Akupun masih ingat betul, bahwa libur jadi barang langka disini. Tanggal merah, atau weekend bisa kita nikmati jika tak ada jadwal jaga. Libur hanya seminggu setiap 6 bulan sekali, itupun jika tak ada remedial ataupun prolong karena terkena hukuman. Belum lagi izin, tak diperkenankan izin disini, bahkan sakit lebih dari 3 hari dengan surat sakit dari rumah sakit pendidikan yang bersangkutan pun membuat kita harus kembali mengulang bagian yang ditinggalkan. 

Sulit yang lain kembali ditemukan, solusi paling tepat tak lain dan tak bukan semata menjaga keseimbangan fisik, mental, pikiran, dan rohani aku pikir. 

Akupun masih ingat betul, dengan cerita yang kudengar dan kubaca ketika menjadi dokter kelak. Gaji dokter umum yang dibilang minim, seolah tak sebanding dengan beban kerja yang dipikulnya. Belum lagi jika kita bandingkan dengan gaji para insinyur teknik yang mungkin besarnya bisa berapa kali lipatnya, apalagi jika dibandingkan dengan pengusaha. 

Untuk dokter yang ke daerah, aku pun pernah mendengar beberapa kisah nyata yang dialami para pendahulu. Salah seorang alumnus almamater ku di Papua, di daerah konflik, pernah disuguhi tombak oleh penduduk sekitar ketika menjalankan misi pengabdian nya. Berawal dari salah seorang anggota suku yang bertikai, ketika ia terluka terkena parang, secara beramai-ramai ia dibawa ke dokter tersebut. Sambil membawa anggota nya yang terluka, salah seorang anggota suku lain sempat berujar seperti ini ke dokter tersebut, "Jika teman saya mati, dokter tak bisa menolong, maka dokter pun harus mati!". Anggota lain sudah bersiap dengan tombaknya di sekeliling dokter tersebut. Peralatan medis disana terbatas, apalagi ketika didatangi ke rumah seperti itu. Akhirnya, sambil menangis sang dokter mempersiapkan alat seadanya, jarum jahit pakaian, benang jahit pakaian, air hangat, dan api. Sambil berderai air mata, sang dokter memanaskan jarum jahit itu ke api, memasukan benang ke air hangat, lalu mulai membersihkan dan menjahit luka orang yang terluka tersebut menggunakan alat seadanya, jarum dan benang jahit pakaian. Alhamdulillah orang yang terluka tadi selamat, dan dokter itu pun selamat. 

Tak usah jauh-jauh ke Papua, di daerah Jawa Barat saja, Sumedang. Aku mendengar cerita langsung dari seorang dokter yang mengalami kejadian ini. Bertugas di sebuah pedalaman, hutan di Sumedang. Pada saat itu sedang santer-santer nya isu terkait dukun "teluh", atau dalam bahasa Indonesia nya dukun santet. Tak ada seorang pun yang berani pada dukun "teluh" saat itu, bahkan kapolsek atau camat setempat pun. Sampai akhirnya suatu ketika, terdapat kejadian salah seorang yang dianggap dukun santet meninggal, ditusuk menggunakan linggis di daerah wajahnya. Tak ayal, tengah malam, sang dokter dibawa ke tengah hutan untuk memeriksa jenazah korban, sendirian. Karena warga sekitar tak ada yang berani menghampiri dukun "teluh" itu, walau hanya sekadar mendekati jenazahnya. 

Aku pun masih ingat betul, kejadian akhir-kahir ini, terkait seorang dokter spesialis, konsultan, di sebuah kota besar dan rumah sakit pendidikan pula. Operasi usus buntu seorang artis, pemain band, yang berujung tuntutan mal praktik karena mungkin ada sedikit kekeliruan dalam hal komunikasi. Ini mungkin salah satu cerita dari sekian banyak kejadian yang terjadi. 

Entahlah, jika kembali ditelaah, ditelusuri dan dipikirkan. Proses menjadi dokter selalu tak luput dari kesulitan, dimulai dari sulit untuk bisa masuk Fakultas Kedokteran, sulit untuk belajar ketika menjalani proses pendidikan S1 nya, sulit ketika menghadapi program profesi dokter, sulit ketika menjadi dokter umum, baik itu di daerah, maupun di kota besar, bahkan sulit ditemukan walaupun sudah menjadi seorang dokter konsulen. Sulit memang.Bahkan untuk sekadar membayangkan nya pun, aku yakin sebagian dari kita memiliki kesulitan. 

Tapi ingatlah kawan, bahwa sulit tak selamanya sulit, sebagaimana mudah tak selamanya mudah. Hanya saja yang dikhawatirkan kesulitan punya nafas lebih panjang dibandingkan semangat kita untuk mengalahkan nya. Sadari benar bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al Insyiraah ayat 6 yang artinya: 

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 

Menjadi hamba Allah adalah suatu kepastian. Menjadi mahasiswa kedokteran, dokter muda, atau menjadi dokter adalah pilihan hidup untuk menjemput takdir sejarah kita. Menjadi aktivis, giat berkontribusi untuk umat adalah saringan alami untuk membuktikan pada dunia bahwa kita adalah hamba yang berbeda dari kebanyakan hamba yang Allah ciptakan. Seperti yang dikatakan Shalahudin al-Ayubi, memang bukan kita yang memilih takdir. Takdirlah yang memilih kita. Tapi bagaimanapun, takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya di saat yang paling tepat. Jangan sampai takdir hidup kita tak pernah sampai pada tujuan, jangan sampai mimpi kita terlalu sederhana, dan perjalanan cita-cita sangat lamban dan tidak menghantarkan. Cita-cita punya syarat penuainya, begitupun harapan dan keinginan punya harga amalnya. Kesungguhan mutlak jadi penuainya, dan tekad adalah pengantarnya. Karena ketika pikiran memberikan kita arah, tekadlah yang mendorong kita untuk melangkah, ketika pikiran menerangi jalan kehidupan kita, tekadlah yang meringankan kaki kita menjalaninya. Menjadi apapun kita saat ini, mulai awali dengan tekad untuk mencapainya. 

Kesulitan, jenuh, dan menghadapi berbagai permasalahan itu fitrah. Menghadapi kenyataan pahit itu perlu. Karena terkadang manis itu dilalui setelah pahit kita lewati. Menghadapi kenyataan pahit saat ini bisa jadi sebuah pembelajaran, seolah menjadi jeda, untuk kita berbenah, untuk kita mengambil hikmah. Ibarat hujan, akan ada pelangi indah yang kita nantikan. Dan yakinlah kawan, bahwa pertolongan Allah itu hadir sesuai dengan kadar ujian yang Ia berikan. 

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya pertolongan itu datang dari Allah SWT pada seorang hamba sesuai dengan kadar ujiannya dan kesabaran itu diberikan oleh Allah SWT kepada seorang hamba sesuai dengan musibahnya." 
—HR. Baihaqi 

Kesulitan seolah menjadi teman yang membersamai proses menjemput takdir sejarah dokter kita. Untuk itu, keberaniaan nampak menjadi penawarnya. Jangan sampai kesulitan membuat kita patah karena lelah. Akan tetapi, tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri. Risiko adalah pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus-menerus. Di dalam kesabaran terdapat banyak kebaikan, dibalik kesabaran ada kemenangan. 

Kesulitan yang senantiasa membersamai ini seolah menjadi tantangan yang perlu dilewati untuk kemudian kita nikmati ganjaran nya sesuai dengan kadar lelah yang sudah kita kerjakan. Alasan yang membuatku bertahan di jalan ini hingga kini adalah karena disini aku temukan banyak jalan untuk berbagi. Semangat berbagi ini adalah bukti keluhuran jiwa. Konteksnya bukan lagi memenuhi kewajiban, melainkan diatas itu, berbagi lebih mencerminkan rasa syukur, semangat berbakti, dan semangat untuk tidak menjadi mercusuar di tengah kondisi kurang beruntung yang dialami orang lain. 

Berada di jalan ini, sampai saat ini telah memberikan kesempatan bagiku bersama beberapa rekan dan mitra lain nya untuk memberikan pengobatan gratis untuk ribuan orang di berbagai tempat, memberikan bantuan medis dalam fase tanggap bencana hampir di setiap bencana yang terjadi terutama di wilayah Jawa Barat, juga menjalankan recovery dan rehabilitasi setelahnya. Selain itu berbagai upaya promotif preventif berupa edukasi kesehatan melalui penyuluhan telah dilakukan untuk ribuan orang di berbagai tempat dan berbagai kalangan, mulai dari murid TK hingga masyarakat lanjut usia. Pendampingan medis untuk berbagai lembaga, organisasi, dan kegiatan atau acara kerap dilakukan. Pembinaan kesehatan menjadi agenda yang diperhatikan, pembuatan kurikulum kesehatan dan monitoring kesehatan ratusan anak jalanan, hingga pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi kader telah dilakukan. Pelatihan kesehatan pun telah dilakukan untuk ribuan orang dari berbagai kalangan di berbagai kegiatan, dengan beragam materi kesehatan. Memeriksa kesehatan ribuan orang, mulai dari kalangan siswa pendidikan anak usia dini (PAUD), pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat lansia juga telah dilakukan, dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk ribuan murid PAUD hingga siswa SD menjadi agenda yang masih dilakukan hingga kini. Berada di jalan ini bagiku memberi kesempatan untuk bisa menciptakan senyum, menjawab harap, dan menghadirkan doa pada ribuan masyarakat di Indonesia. 

Selalu ada kemudahan dibalik kesulitan, selalu ada kelapangan dibalik kesusahan, selalu ada ganjaran atas setiap kadar lelah yang dilakukan, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, dan selalu ada bahagia dibalik syukur dan sabar yang dihadirkan. 

Dunia kedokteran, ibarat bersakit-sakit dahulu, sulit kemudian. Tapi sekali lagi yakinlah, bahwa ganjaranmu tergantung kadar lelahmu. Ada ganjaran dari setiap sakit dan sulit yang dilewati. Semakin tinggi resiko dan tingkat kesulitan nya, semakin banyak hikmah dan berkah yang kita peroleh di dalamnya. Ingatlah bahwa segala puncak prestasi harus teruji, begitupun menjadi ahli surga harus terbukti di dalam kesungguhan dan kesabaran menghadapi ujian hidup di Jalan Nya. Pahala Allah tidak pernah salah, bagaimanapun niat dan langkah untuk beramal Islami, selalu ada surga dibalik itu. 

Selamat menjalankan sisa usia, menjemput keberkahan dalam setiap kesulitan yang dihadapi. Selamat menyehatkan bangsa dengan sehat seutuhnya, terciptanya kondisi fisik, mental, dan ruhani yang baik, yang mampu produktif secara ekonomi maupun sosial. Dan seperti yang dikatakan (alm) KH Rahmat Abdullah, teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.

Cerita Seorang Koas


Tak henti bersyukur diri ini, bisa berada di posisi ini, didoakan orang banyak. Salah satunya supaya jadi dokter yang bermanfaat bagi semua dan barokah (hihihi.. doanya mama ellisma – salah satu geng nero yang selama sekolah dokter ini maen2 bareng saya, hihi), dan doa semoga bisa meraih mimpi kita masing2, amiinn.. Alhamdulillah saya masih diijinkan Allah bermimpi, difasilitasi orang tua, dan diijinkan berada di jalan mimpi ini.
Teringat kisah saat saya koas ilmu penyakit dalam aka interna dahulu. Kisah seorang pasien yang sangat menyentuh hati saya. Seorang wanita muda berusia 31 tahun yang didiagnosis Lupus Nefritis. Lupus atau Systemic Lupus Eritematous (SLE) adalah penyakit autoimun yang menyerang tubuh seseorang. Gampangnya, sel-sel imun yang seharusnya menjaga tubuh dari serangan bakteri, dan membunuh bakteri yang masuk. Tapi pada pasien dengan SLE, sel-sel imun ini malah menghancurkan organ2 tubuh manusia itu sendiri. Terdapat kekacauan dari sel imun dalam mengidentifikasi sel ini sel tubuh sendiri atau sel antigen asing yang harus dimusnahkan. Well, pada pasien SLE, dapat terjadi komplikasi yang lebih jauh, salah satu contohnya adalah lupus nefritis. Lupus Nefritis yaitu komplikasi yang terjadi di ginjal, menyebabkan fungsi ginjal terganggu bahkan rusak. Ginjal tak dapat menghasilkan urin. Hasil metabolisme yang harusnya dikeluarkan diurin gagal diekskresi. Terjadi kerusakan pada sel2 glomerulus, dst dari ginjal.
Well, itulah yang terjadi pada pasien yang aku tangani di bangsal RS. Kala itu, saya masih dokter muda junior di rotasi IPD. Bertugas selama 2 minggu penuh di bangsal. Follow up setiap pagi pada setiap pasienku, bersama 2 orang senior saya yang sungguh baik dan enak diajak kerjasama.
Setiap pagi, saya berkeliling untuk follow up sekitar 12-15 pasien. Setiap pasien saya tanyai keadaan pagi ini, apa saja keluhan yang dirasakan serta anamnesis lainnya. Tak lupa saya melakukan pemeriksaan fisik untuk saya bandingkan dengan pemeriksaan 1 hari yang lalu sesuai yang tertulis di rekam medis. Ketika sampai di bed pasien wanita muda itu, dia banyak bercerita. Dia sudah tidak asing dan bolak balik ngamar di RS. Sakit lupus ini sudah dia derita 5 tahun-an. Awalnya, dia bercerita, merasa sering cepat lelah. Kemudian apabila terkena sinar matahari, akan muncul bintik2 kemerahan di wajahnya, dan badannya mudah panas tinggi, bahkan hingga 40 derajat celcius. Terakhir, muncul bintik2 kemerahan (ptekiae) di seluruh kaki dan tangannya. Sesak nafas juga sering dirasakan. Pasien ini masuk dalam kategori penting. Setiap kali operan dengan dokter muda jaga selalu menyebutkan keadaan pasien ini. Seringkali tengah malam tiba2 demam tinggi. Sampai saya yang ikut merawatnya, meletakkan termometer di atas meja disebelah ranjangnya untuk mempercepat pendeteksian gejala itu.
Pagi itu, diagnosis lupus nefritis belum tegak, masih SLE suspek komplikasi lupus nefritis dd entahlah saya lupa. Dia sering mendapatkan obat-obatan untuk menguras cairan dalam tubuhnya yang tidak mampu dikeluarkan oleh ginjal. Beberapa hari kemudian, hasil biopsi keluar, dan pasien dinyatakan telah mengalami komplikasi pada ginjalnya.
Pagi berikutnya, dia semakin sesak, dan ini tidak membaik. Pemeriksaan serum elektrolit menunjukkan kadar kalium yang tinggi. Pemberian kalsium glukonas, insulin, dan D40 tidak mampu menurunkan kadar kalium dalam darahnya. Maka pasien diindikasikan untuk dilakukan hemodialisis cito (cuci darah yang dilakukan pada keadaan emergensi). Pasien segera dijadwalkan HD hari itu juga. Sore itu, saya pulang kerumah dengan hati tak keruan. Smoga semuanya baik2 saja dan teman saya yang berjaga malam dapat meng”aman”kan situasi.
Follow up pagi harinya, ternyata keadaannya membaik. Badannya sudah berkurang bengkaknya. Nafasnya sudah tidak sesak lagi. Dia merasa enteng dan enakan setelah HD. Alhamdulillahh.. Follow up pagi itu dia bercerita banyak hal. Tentang suaminya yang sangat sayang dan menunggu dengan sabar disebelahnya walaupun dia sakit. Tentang keinginannya untuk segera pulang karena kangen dengan anak satu2nya yang masih balita. Tentang bagaimana kemarin dia sangat sesak dan sekarang dia membaik. Saya lega. Sayangnya saat itu adalah terakhir saya memfollow up dia. Keesokan harinya, saya harus rolling ke bangsal lain untuk memfollow up pasien lain. Perawatan wanita muda itu saya operkan ke teman sesama dokter muda yang giliran tugas di bangsal itu. Informasi sudah lengkap juga tertulis di rekam medis.
Baru sekitar seminggu saya bertugas di bangsal yang baru, saya berjumpa teman saya yang dulu saya beri operan tugas di bangsal lama. Dia menemukan termometer saya dan mengembalikannya. Bahkan saya lupa kalau termometer itu tak ada di tas peralatan medis saya. Saya lupa terakhir meletakkannya dimana.
Saya: “Kamu nemu termometerku dimana?”
Teman saya : “Di meja sebelah ranjang pasien”
S : “Ohh iya ya, makasih ya. Aku lupa punya termometer. Pasien yang mana sih?”
TS : “Pasien SLE yang komplikasi ke ginjal”
S : “Ohh iyaaa ibu ituu.. Gimana sekarang kabarnya? itu dulu kan pasienku pas tugas di bangsal yang sekarang km tempati”
TS : ” Iya, ibu itu sudah meninggal kemarin malam”
S : “Innalillahi wa inna lillahi rojiun.. kenapa? sesak lagi?”
TS : “Iya, sesak dan bengkak lagi, malem2 juga ga mungkin harus segera HD cito”
Ya Allah.. saya berdoa kepadamu, Sembuhkanlah pasien2ku dengan kehendak Mu. Bila memang tidak tertolong, jadikanlah masa sakitnya ini sebagai penghapus dosa2 di dunia sehingga dia dapat meninggal dengan tenang dan ringan timbangan dosa2nya kelak. Amin

Pegabdian Dokter


Pengabdian Dokter untuk Indonesia

Pengabdian. Pengabdian merupakan kata-kata agung yang sangat sering diucapkan setiap manusia yang merasa bahwa dirinya memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi. Pengabdian pun menjadi salah satu dari tri darma perguruan tinggi. Hal itu menjadi nomor tiga, tapi menjadi penutup dan menjadi suatu yang harus disadari setiap mahasiswa. Setelah mahasiswa-mahasiswa itu bisa melakukan penelitian atau pengembangan ilmu, segala hal itu harus bisa memberikan manfaat kepada masyarakat luas sebagai bentuk pengabdian.
                Sebagai seorang mahasiswa kedokteran yang pada akhirnya akan menjadi dokter, kita perlu memikirkannya. Suatu kebermanfaatan apa yang dapat kita berikan untuk masyarakat luas. Banyak pertanyaan yang akan bermunculan. Hanya akan menjadi dokter biasa yang melakukan tugasnya hanya sekedar materi sajakah? Atau kita bisa menjadi dokter yang mampu menjadi seorang dokter yang benar-benar dokter. Dokter yang dengan anggapan masyarakat merupakan orang yang begitu mulia bisakah dengan sepenuh memberikan banyak manfaat kepada masyarakat?
                Ketika kita menjadi seorang dokter pada akhirnya, banyak sekali jalan untuk kita bisa melakukan banyak hal bagi masyarakat. Jangan kita beranggapan bahwa hal yang bisa kita lakukan sebagai dokter hanya sebatas menyembuhkan. Ingatkah kita saat sebelum Indonesia merdeka, siapa orang-orang yang memulai menggerakan rakyat Indonesia untuk memulai hari kebangkitannya? Ingatkah pada organisasi Budi Utomo? Para pelajar STOVIA atau yang bisa kita sebut fakultas kedokteran saat ini, mereka merupakan orang-orang pertama yang sadar akan ketertindasan kita oleh penjajah Belanda pada masa itu. Mereka adalah orang-orang kedokteran. Selain mereka, masih banyak lagi pejuang-pejuang kemerdekaan kita yang mereka adalah seorang dokter. Mereka melakukan hal itu atas dasar keinginan melakukan pengabdian kepada bangsanya, Bangsa Indonesia.
                Seorang dokter di masa penjajahan saat itu, tidak perlu mengangkat senjata, tidak perlu ikut merencanakan strategi peperangan menggunakan bambu runcing. Hanya pemikiran mereka yang begitu besar membuktikan bahwa negara kita, Indonesia, berhak merdeka seperti bangsa-bangsa lain. Hanya itu. Mereka menjadi penggerak bagi anak-anak muda Indonesia. Tapi dengan itu mereka buktikan bahwa mereka peduli akan negaranya, dengan itu mereka buktikan bentuk pengabdian pada bangsanya. Mereka tidak diam, mereka bergerak untuk melakukan hal itu.
                Saat sekarang, negara kita sudah merdeka. Kita sebagai dokter-dokter nanti pada akhirnya, tidak perlu lagi memikirkan bagaimana caranya agar menggerakan rakyat untuk maju berperang melawan penjajah. Lalu bagaimana bukti pengabdian dokter untuk Indonesia saat ini? Ketika seorang dokter bekerja di kota-kota besar dan terpusat disana dengan mereka melakukan pekerjaan hanya berbatas materi, sudahkah dokter itu melakukan pengabdiannya? Iya, tentu belum. Tapi bukan berarti dokter pun tidak bisa melakukan pekerjaannya untuk mencari nafkah. Bukan berarti dengan menjadi dokter kita tidak boleh mencari nafkah yang sebanyak-banyaknya. Hanya saja kadang dari mencari nafkah itu, kita yang pada akhirnya akan menjadi seorang dokter lupa bahwa salah satu tugas kita pun untuk melakukan pengabdian. Dengan cara apa? Pengabdian itu tentu dilakukan dengan cara memperbaiki status kesehatan Indonesia saat ini dengan kita tidak terpusat pada pasien-pasien kita yang memiliki banyak uang tapi memiliki sakit yang parah. Ketika kita harus memikirkan pengabdian, cobalah berpikiran untuk sejenak melihat orang-orang yang sakit parah tapi justru tidak memiliki uang.
                Sudah banyak kita dengar, ketika ada sebuah rumah sakit yang tidak bisa memasukkan pasien-pasien mereka ketika pasien yang akan masuk ke kamar perawatan belum menyelesaikan administrasi mereka setengahnya. Atau dilain kasus, saat seorang dokter yang banyak memberikan obat yang sebenarnya tidak perlu diberikan hanya untuk memenuhi target pabrik obat padahal pasiennya itu hanya berbekal uang Rp. 35.000,-, itu pun mungkin merupakan pendapatannya hari itu yang mungkin saja saat uang itu habis, ia tidak bisa membeli makanan untuk satu hari itu.  Ketika kita menemukan kasus-kasus seperti itu, kita perlu mempertanyakan dimana atau sudah lupakah dokter-dokter itu untuk memberikan pengabdiannya kepada negara melalui rakyat-rakyatnya.
                Pengabdian dokter untuk Indonesia dapat kita lakukan melalui banyak hal. Jika kita mau, kita bisa mendirikan sebuah klinik cuma-cuma yang pada saat pasien datang, mereka boleh bayar dengan uang yang mereka punya. Atau jika kita belum mampu disitu, kita bisa melihat daerah sekeliling kita, coba kita lihat daerah di dekat rumah kita sudah baikkah keadaan lingkungan. Jangan lupa bahwa sebagai dokter/ orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan, hal yang harusnya lebih kita utamakan adalah tindakan promotif dan preventifnya, bukan diutamakan kuratif dan rehabilitatifnya.
                Di Indonesia saat ini, masih sangat banyak daerah yang belum terjamah pelayanan kesehatan yang cukup memadai. Kadang di satu daerah masih ada satu puskesmas, puskesmasnya buka tapi dokternya tidak ada, entah dimana. Ini yang perlu kita lirik. Di daerah seperti itu biasanya lingkungan rumah mereka pun masih kurang baik keadaan kebersihannya, misanya dari keadaan MCKnya yang seadanya. Itu yang perlu kita bantu promosikan. Bentuk pengabdian kita, bisa kita lakukan dari hal kecil terlebih dahulu dengan cara membantu memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa kesehatan itu merupakan hal yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Kita bisa memberikan edukasi baik dengan memberikan pendidikan kepada masyarakatnya mengenai cara hidup bersih, melakukan kerja sama dengan stake holder setempat seperti pihak kelurahan atau yang lainnya untuk membantu menggerakan masyarakatnya untuk mau menjaga hidup bersih mereka dan pada akhirnya pihak pemerintahan setempat itulah yang menjadi pengawas keseharian hidup warganya. Selain itu, kita pun bisa melakukan balai pengobatan gratis berkala yang dalam programnya pun bisa kita lakukan pemeriksaan masyarakat melalui door to door.

Menurunkan Kadar Gula Darah

Bagaimana menurunkan kadar gula darah anda 
 
Saran yang akan anda peroleh dibawah ini adalah saran yang luar biasa baik yang sudah diedit dari 
seorang wanita bernama Jennifer, yang sudah membantu ribuan orang untuk menurunkan kadar gula darah 
mereka ke level dimana hasil tes A1c menjadi sekitar 5%. Catatan : Jennifer yang menulis saran ini tidak 
sama dengan Jenny yang ada di wbsite Blood Sugar 101. 
 
Step 1: Langkah 1 : Makan seperti biasanya dan catat 
 
Makan seperti biasanya, tetapi gunakan alat ukur gula darah anda untuk mengukur gula darah pada waktu 
sebagai berikut  
 
Tulis apa yg Anda makan dan hasil gula darah anda pada waktu :  
Saat bangun pagi (puasa) 
1 jam setelah makan  
2 jam setelah makan  
Dengan cara ini apa yang akan anda temukan adalah kapan gula darah anda akan mencapai titik tertinggi, 
dan seberapa cepat gula darah anda akan kembali ke “normal”. Dan juga anda akan belajar bahwa 
makanan seperti roti, buah dan sayuran yang mengandung pati/karbohidrat akan menaikkan gula darah 
anda. 

Langkah 2 : Untuk beberapa hari berikutnya kurangi konsumsi karbohidrat anda 
Hilangkan roti, sereal, nasi, biji-bijian, makanan yang mengandung tepung gandum, kentang, jagung dan 
buah. Penuhi kebutuhan karbohidrat anda hanya dari sayuran. Test menu makan yang sudah dimodifikasi 
ini seperti jadwal di langkah 1. Lihat dampak pengurangan karbohidrat ini pada kadar gula darah anda.  
Semakin dekat angka kadar gula anda seperti para non-diabetes maka semakin besar kesempatan anda 
dalam menghindari komplikasi yang mengerikan.  
Berikut adalah kadar gula darah normal yang menjadi acuan dokter pada saat ini :  
Gula darah puasa Dibawah 100 mg/dl 
1 jam setelah makan  Dibawah 140 mg/dl 
2 jam setelah makan  Dibawah 120 mg/dl 
Kalau saja anda bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dari ini maka teruskan saja. , The American 
College of Clinical Endocrinologists menyarankan penderita diabetes untuk selalu menjaga gula darah 
mereka dibawah 140 mg/dl 2 jam setelah makan.  
Apabila anda sudah mencapai target kadar gula yang normal, maka perlahan anda bisa dengan hati-hati 
menambahkan karbohidrat pada menu makan, tentu saja pastikan anda mengetes gula darah setiap setelah 
makan. Hentikan menambahkankan karbohidrat begitu kadar gula anda naik mendekati batas diatas.  
 
Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa gula darah setelah makan adalah kadar yang paling indikatif 
dalam memprediksi komplikasi di masa yang akan datang terutama pada masalah jantung.
  
Langkah 3 : Tes, tes, tes Langkah 3 : Tes, tes, tes    
Perlu diingat bahwa kita tidak berlomba dengan siapapun tetapi dengan diri kita sendiri. Rencanakan menu 
makan anda. Tes, tes, dan tes untuk mengetahui makanan apa yang akan menaikkan gula darah. 
Belajarlah untuk mengetahui makanan apa yang memberikan hasil terbaik pada kadar gula darah anda.   
Tidak peduli apa yang dikatakan orang sekitar anda, selama suatu makanan menaikkan kadar gula darah 
anda lebih tinggi dari target anda, maka hindarilah makanan tersebut. Alat pegukur kadar gula anda akan 
memberitahukan makanan yang terbaik untuk diet diabetes anda sesuai dengan kondisi tubuh anda. 
Gunakan dan peroleh kembali kesehatan anda.  
 

ANEMIA

Anemia (dalam bahasa Yunani: ἀναιμία anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh. Anemia adalah penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel darah merah, etiologi yang mendasari, dan penampakan klinis. Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya sel darah merah secara berlebihan hemolisis atau kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif). Seorang pasien dikatakan anemia bila konsentrasi hemoglobin (Hb) nya kurang dari 13,5 g/dL atau hematokrit (Hct) kurang dari 41% pada laki-laki, dan konsentrasi Hb kurang dari 11,5 g/dL atau Hct kurang dari 36% pada perempuan Tanda dan gejala anemia[sunting | sunting sumber] Gejala anemia : Bila anemia terjadi dalam waktu yang lama, konsentrasi Hb ada dalam jumlah yang sangat rendah sebelum gejalanya muncul. Gejala- gejala tersebut berupa : Asimtomatik : terutama bila anemia terjadi dalam waktu yang lama Letargi Nafas pendek atau sesak, terutama saat beraktfitas Kepala terasa ringan Palpitasi Sedangkan, tanda-tanda dari anemia yang harus diperhatikan saat pemeriksaan yaitu : Pucat pada membran mukosa, yaitu mulut, konjungtiva, kuku. Sirkulasi hiperdinamik, seperti takikardi, pulse yang menghilang, aliran murmur sistolik Gagal jantung Pendarahan retina [1] Tanda-tanda spesifik pada pasien anemia diantaranya : Glossitis : terjadi pada pasien anemia megaloblastik, anemia defisiensi besi Stomatitis angular : terjadi pada pasien anemia defisiensi besi. Jaundis (kekuningan) : terjadi akibat hemolisis, anemia megaloblastik ringan. Splenomegali : akibat hemolisis, dan anemia megaloblastik. Ulserasi di kaki : terjadi pada anemia sickle cell Deformitas tulang : terjadi pada talasemia Neuropati perifer, atrofi optik, degenerasi spinal, merupakan efek dari defisiensi vitamin B12. Garing biru pada gusi (Burton’s line), ensefalopati, dan neuropati motorik perifer sering terlihat pada pasien yang keracunan metal Klasifikasi anemia akibat Gangguan Eritropoiesis[sunting | sunting sumber] Anemia defisiensi Besi : Tidak cukupnya suplai besi mengakibatkan defek pada sintesis Hb, mengakibatkan timbulnya sel darah merah yang hipokrom dan mikrositer. Anemia Megaloblastik Defisiensi folat atau vitamin B12 mengakibatkan gangguan pada sintesis timidin dan defek pada replikasi DNA, efek yang timbul adalah pembesaran prekursor sel darah (megaloblas) di sumsum tulang, hematopoiesis yang tidak efektif, dan pansitopenia. Anemia Aplastik Sumsum tulang gagal memproduksi sel darah akibat hiposelularitas. Hiposelularitas ini dapat terjadi akibat paparan racun, radiasi, reaksi terhadap obat atau virus, dan defek pada perbaikan DNA serta gen. Anemia Mieloptisik Anemia yang terjadi akibat penggantian sumsum tulang oleh infiltrate sel-sel tumor, kelainan granuloma, yang menyebabkan pelepasan eritroid pada tahap awal. [2] Klasifikasi anemia berdasarkan ukuran sel Anemia mikrositik : penyebab utamanya yaitu defisiensi besi dan talasemia (gangguan Hb) Anemia normositik : contohnya yaitu anemia akibat penyakit kronis seperti gangguan ginjal. Anemia makrositik : penyebab utama yaitu anemia pernisiosa, anemia akibat konsumsi alcohol, dan anemia megaloblastik. [3]