Featured Posts Coolbthemes
Minggu, 13 Juli 2014
Pengalaman Kuliah Kedokteran
“Kamu masih kuliah apa udah kerja?”
(bingung jwbnya. Dibilang kuliah, udah lulus S1. Dibilang kerja jg bukan,
orang g digaji. Akhirnya memutuskan…)
“Hmmm, saya masih kuliah..”
“Ooh, di mana?”
“Di fakultas kedokteran ..”
“Wah, hebat donk! Udah pernah motong mayat?”
“Hmm, udah sih..”
“Gimana sih rasanya kuliah di FK?”
“Kuliah di FK itu ……..”
Percakapan di atas adalah suatu template percakapan yg sangat mungkin terjadi antara variabel ‘seseorang’ (bisa jd orang tua teman, saudara, tetangga, atw bahkan orang yg kebetulan baru ketemu di jalan) dengan ‘mahasiswa FK’.
Dr sini biasanya pembicaraan akan berlanjut dimana si penanya akan menggali informasi lebih dalam dan lebih dalam lg. Bagi sebagian orang, entah kenapa mahasiswa FK ini adalah “makhluk unik bin ajaib”.
Betapa tdk, mahasiswa FK tdk jarang diserbu dgn pertanyaan “Udah pernah motong mayat?”, “Udah pernah nyuntik orang?”, “Kalo liat orang berdarah-darah gitu, serem g?”, “Eh, ini kaki saya koq suka gatel-gatel, kenapa ya?”, sampai dengan “Kamu udah punya pacar blm, kalau mau nanti tante kenalin sama anak tante..”.
Dan kami (mahasiswa FK) tentu jarang bgt dpt pertanyaan seperti “Udah nyobain windows 7 blm? Saya udah coba tapi koq g stabil ya..”, “Udah pernah ikut ke pengadilan blm? Menurut kamu gimana dasar hukum tentang kasus xxxx?”, “Kak, aku bingung. Kenapa ya setiap angka yg dibagi 0 hasilnya jd tdk terdefinisi?”, atau “Kalau kamu ngeliat harga saham naik-turun gitu, kamu jd merinding g?”
Dr pengalaman saya sendiri, orang bilang kuliah di FK itu susah dan super sibuk. Beberapa langsung dgn semena-mena memberi label ‘berani’ pd anak FK, lagi-lagi hubungannya dgn motong mayat (hey, kami bukan tukang jagal :p ). Beberapa orang bilang “Enak bisa masuk FK, gampang jd orang sukses nantinya” (gampang dari Hongkong!).
Beberapa orang mati-matian mau masuk FK, tapi g berhasil. Beberapa orang lain mati-matian g mau masuk FK, tapi dipaksa orang tuanya, dan sialnya, masuk dengan sukses. Sementara yg berhasil masuk krn keinginan sendiri (kaya’ saya), mati-matian biar bisa survive di FK. Tapi percaya atau g, kami ini manusia biasa aja.
Tulisan cuma mau menceritakan bagaimana paradigma anak FK terhadap pendidikan kedokteran itu sendiri. Kesempatan langka, karena kami g pernah diberi waktu untuk mengungkapkan ini kecuali di tulisan diem-diem kaya’ gini :p
Jadi, ternyata menurut anak-anak FK, kuliah di kedokteran itu …..
Kuliah kedokteran itu kaya’ kerja jd satpam, jaga malam lg, jaga malam lg.
Kuliah kedokteran itu bagaikan bohongin anak kecil. Pagi hari kita bilang ke pasien yg ada riwayat serangan jantung “Pak, jangan banyak makan yg berlemak ya„ makan manisnya jg dikurangi”. Eh, siangnya kita nongkrong di McD, sorenya nongkrong di J-Co.
Kuliah kedokteran itu seperti menceburkan diri ke dlm lumpur hisap. Awalnya cuma sedikit, lama-lama akan terhisap semuanya. Terus mulai panik krn menyadari kita g bisa berbuat apa-apa.
Kuliah kedokteran itu seperti masuk ke dlm suatu garden maze, gampang masuknya, susah keluarnya. Di dlmnya nyasar, banyak digigit serangga, blm lg luka krn terkena ranting-ranting.
Kuliah kedokteran itu kaya’ supir angkot, pergi pagi pulang sore/malem, ikut macet-macetan di jalan, pantat panas, parahnya lg mesti bayar setoran tiap 6 bulan.
Kuliah kedokteran itu mengalami menjadi kasta terendah di suatu sistem kerajaan bernama rumah sakit. Cuma bisa nunduk-nunduk mohon ampun sama orang yg kastanya lebih tinggi seperti si dokter galak, residen rese’, professor sadis, dan sebagainya.
Kuliah kedokteran itu layaknya diumpankan ke dlm sarang penyakit, dan sistem imun kita bertarung sekuat tenaga agar terbebas dari penyakit itu. Kadang ada yg gagal, terus kena gatel-gatel yg sembuh dlm beberapa hari, atw terkena cacar yg mungkin sembuh dlm seminggu. Apesnya, kalau kena jarum bekas penderita HIV/hepatitis?! Amit-amit jabang beibeh!!
Kuliah kedokteran itu belajar sok tau dlm membuat penelitian, padahal boro-boro ngerti tentang apa yg diteliti. Apalagi harus belajar statistik pula! Kenapa fakultas ilmu matematika g disuruh belajar patofisiologi penyakit? G adil kan? Huhuhuhu.. *biasanya dgn nada ngomel*
Kuliah kedokteran itu serba salah, kalau diam pasti disuruh bicara, kalau udah bicara ditanya apa dasarnya. Kalau bicara tanpa dasar, lebih baik g usah bicara. Udah ada dasarnya aja masih mungkin dipertanyakan kebenarannya.
Prihatin?
Silahkan. Tapi kami hidup bukan untuk dikasihani.
Ingin mengutuk fakultas kedokteran?
Nanti dulu..
Kalo tulisan di atas membuat yg baca ini membayangkan betapa menderitanya jd mahasiswa FK (dan membuat para mahasiswa FK menyadari bahwa subyek utama yg disebut ‘menderita’ dlm tulisan ini adalah Anda), silahkan baca yg berikut ini:
Kuliah kedokteran itu seperti mendapat tugas suci menggantikan rembulan di malam yang gelap (tsaahh.. :p ). Kita bangun di malam hari saat semua orang tidur, dan di suatu tempat di manapun di tanah air ini, ada orang yg mengalami kesakitan parah sedang bersyukur krn kita masih terbangun saat itu. Mungkin pasien itu akan berlalu begitu saja seiring berlalunya malam, tapi mungkin keberadaan kita malam itu akan diingat terus oleh si pasien.
Kuliah kedokteran itu seperti reminder gratis yg mengingatkan kita utk selalu bersyukur krn kita bukan orang yg mengalami serangan jantung yg sedang terbaring di tempat tidur, dan jg mengingatkan kita utk terus menjaga kesehatan. Berapa orang sih yg saat ini sadar untuk menjaga kesehatannya secara mandiri?!
Kuliah kedokteran itu kaya’ nari di night club (sotoy, krn aslinya saya g pernah nari di night club :p ). Kita g akan mau berhenti sebelum lagunya habis. Lagian kita g pernah dugem sendirian kan?! Kalo kita mau melihat sekeliling kita, banyak orang yg sama-sama nari dgn kita. Ok, emang banyak jg yg g nari seniat kita„ tapi setidaknya malam itu kita bisa jd dancing king/queen.
Kuliah kedokteran itu kaya’ masuk k dlm garden maze, gampang masuknya, susah keluarnya. Tapi selama tersesat di dlm kita bisa melihat berbagai macam serangga dan bunga. Kita bisa foto-foto dan kita punya sejuta cerita untuk dibagi ke semua orang kalo kita keluar nanti.
Kuliah kedokteran itu kaya’ jd tokoh utama dlm sebuah game. Kita berangkat tanpa tw apa yg akan dihadapi hari ini dan kita pulang setelah melawan semua “musuh”. Kaya’ prinsip game, makin susah “musuh”nya makin besar rewardnya! Ditambah ada kesempatan dpt rare item, experience, dan gold yg banyak :p
Kuliah kedokteran itu seperti dpt kesempatan gratis buat cuci mata, liat dokter dan residen yg ganteng dan cantik, sambil menahan sekuat tenaga biar g pingsan terkena ‘charming attack’ waktu diajak ngomong ;)
Kuliah kedokteran itu g kalah hebat sama paranormal kenamaan negeri ini. Liat pasien kurus, bertato, keluhan demam, kita bisa langsung bilang “B20! Masuk kamar isolasi!” (B20 ini kode rahasiaa :p ). Kalo ada kesempatan bisa jd bahan taruhan jg, contoh: “Taruhan traktir mie ayam di kantin, pasien A itu kaya’nya HIV positif”. (Hehehe..)
Kuliah kedokteran itu bikin kita jd kelihatan keren sejenak. Nanti kalo udah selesai penelitian, kita udah punya 1 pernyataan maut kaya’ gini: “Dari hasil penelitian yg telah saya lakukan, …” (Wess„mantep kan?!) :D Kalo suatu saat ada orang yg lg membicarakan tentang suatu topik yg kebetulan kita teliti, bisa ikut diskusi dgn muka sombong dan seolah-olah bilang, “Ini makanan saya bgt, saya udah pernah meneliti ini. Dari penelitian yg saya lakukan, …” (Tuh kan, beneran mantep)
Kuliah kedokteran itu membuat kita jd berpikir super kritis, apalagi saat ini banyak bgt info hoaaxx yg beredar baik melalui SMS, e-mail, jejaring sosial, sampai BBM. Misalnya gossip kalo mengkonsumsi udang dan vitamin C bisa bikin meninggal. Apakah informasi tersebut benar?! Apakah sumber data yg digunakan valid? Apa desain penelitian yg digunakan? Apa case dan kontrol yg digunakan sesuai? Seberapa besar confidence intervalnya? Apakah bisa dijelaskan secara ilmiah? Dgn kekritisan ini maka kita akan lebih bijaksana dlm menerima informasi. (Dan CRP pun terasa sangat berguna!) :D
Hal ini bisa diterapkan g cuma dlm bidang kesehatan, tapi jg dlm hal lainnya seperti menanggapi secara kritis seberapa bsr pengaruhnya Ayu Ting Ting punya pacar terhadap kehidupan Anda? (Sumpah poin ini g penting abis!!)
Jd gimana„ Selalu ada sisi indah di balik sisi buruk bukan?!
Kuliah kedokteran itu seperti melempar koin bergambar kegembiraan dan penderitaan. Persentase kemunculan tiap gambar adalah 50%. Tapi kalo mau belajar main secara cerdas, kita bisa meningkatkan persentase munculnya kegembiraan hingga 100%! ;D
** Dr tulisan yg menginspirasi & saya edit sesuka hati. hehe..
Surat Untuk Sejawat Kedokteran
SURAT DARI SEJAWAT
Disclaimer: Sebenarnya saya sudah "berjanji" pada diri sendiri untuk tidak menulis ramai-ramai soal dokter lagi. Bukan apa-apa, jujur, saya capek juga membaca beratus komentar negatif yang masuk tiap harinya. Saya percaya, when negativity surrounds you, you can not produce a positive life. Bukan berarti juga saya menutup mata dan hati terhadap pandangan orang lain. Engga sama sekali, selama disampaikan dengan baik dan benar. (Baca: Bukan cuma komentar dari orang yang bahkan tidak mau menuliskan nama aslinya hanya untuk menyerang dengan kata-kata kasar). Kalau mau berdiskusi, boleh-boleh saja kok:)
Tapi rupanya tangan saya gatel juga nih ingin menulis setelah membaca respons banyak orang terhadap aksi dokter di timeline Twitter, Path atau Facebook. Seorang teman mengingatkan saya, people will always find something (bad) to say about us and to judge, so why bother? Benar juga, toh semua orang bebas beropini kan?:)
Rekan sejawat yang saya hormati,
Kemarin, tanggal 27 November 2013, kita sebagai dokter se-Indonesia melakukan aksi solidaritas. Ada yang berdoa bersama, tafakur sampai membagikan bunga. Kita memasang pita hitam di lengan jas putih sebagai tanda berbela sungkawa atas tindakan kriminalisasi profesi kita. Sungguh sangat"mengerikan" menyandang gelar dokter di negara tercinta ini. Niat yang baik tak lagi cukup. Usaha yang maksimal tak lagi dinilai. Menyedihkan mengetahui setiap saat kita bekerja menolong orang, ada kemungkinan besar pula kita dianggap sebagai pembunuh. Yang saya ketahui, aksi solidaritas kemarin memang disepakati serentak agar memberikan efek massive pressure pada pemerintah untuk segera membenahi sistem pelayanan kesehatan agar kita sebagai dokter dapat merasa aman saat bekerja. Jika sistem pelayanan kesehatan sudah baik, tentu tak hanya dokter yang senang, pasien notabene masyarakat pun akan ikut sejahtera. Kita ingin sekali orang-orang mulia yang berpengaruh di pemerintahan mengetahui betapa acak-acakannya sistem pelayanan kesehatan kita.
Rekan sejawat,
Banyak reaksi yang menyambut aksi kita kemarin. Lihat saja di timeline twitter, Facebook atau Path. Hampir semua orang berlomba-lomba menghujat profesi kita. Tak sedikit pula media yang memberitakan dengan tidak berimbang. "Dokter Mogok, Pasien Terlantar." Begitu bunyi banyak headline media massa, diperburuk oleh orang-orang yang berkoar di sosmed tanpa mau bersusah payah meng-kroscek benar tidaknya berita tsb. Tidak tahukah mereka bahwa kita tidak pernah berniat menelantarkan pasien? Tidak mengertikah mereka yang menghujat kita dengan membawa sumpah dokter (entah mereka tahu benar bunyinya atau tidak), bahwa aksi yang hanya dijalankan beberapa jam itu tetap menomor satukan pelayanan? Pelayanan emergency tetap dibuka, pasien gawat darurat masih dilayani. Di tempat saya bertugas, aksi solidaritas ini hanya berjalan selama 25 menit. Pasien rawat jalan (baca: TIDAK emergency) ditunda pelayanannya 25 menit. Hanya 25 menit. Kita belajar seumur hidup, mengorbankan banyak hal, bekerja keras tak kenal waktu, untuk apa lagi kalau bukan untuk pasien? Bagaimana bisa kita menelantarkan mereka?
Rekan sejawat,
Setidaknya ada satu hal yang bisa kita catat dari reaksi masyarakat. Bahwa profesi kita sangat dibutuhkan. Bahwa walaupun dihujat besar-besaran, dokter masih sangat diperlukan. Semoga hal ini bisa menyadarkan pemerintah untuk sesegera mungkin membenahi sistem pelayanan kesehatan.
Rekan sejawat,
Saya tahu betapa sedihnya kita semua mengetahui profesi kita, yang kita usahakan seumur hidup dengan sekian pengorbanan, dihujat oleh orang banyak. Saya tahu, bagaimana marahnya kita saat semua orang mencaci-maki dokter. Saya juga mengerti, mangkel sekali rasanya ketika masyarakat menjelek-jelekkan profesi dokter. Saya tahu, banyak pemberitaan tak berimbang yang membuat profesi dokter tambah dijudge ini-itu. Percayalah, saya mengerti. Tapi please, jangan tersulut emosi. Banyak rekan sejawat yang menulis status di sosmed "Rasain tuh gimana rasanya engga ada dokter!" atau "Kalau sakit, engga usah ke dokter ya! Ke dukun aja sekarang!" dan komentar kasar sejenis lainnya. Walaupun kesal juga, saya tetap merasa pernyataan seperti ini tidak pantas. Bagaimanapun, selain pointless, komentar-komentar kasar hanya menambah rusuh suasana. Jangan jugalah mendiskreditkan profesi lain. Kita sama-sama manusia yang membutuhkan orang lain. Tanpa polisi, wartawan, hakim, pengacara, jaksa, buruh, tentu kita tidak bisa bekerja sebagai dokter dengan baik. Tunjukkanlah kalau kita memang tidak arogan, seperti apa yang dianggap banyak orang. Buktikanlah kalau memang kita berpendidikan. Tidak usah menanggapi komentar kasar asal lewat atau asal ngomong tanpa tujuan dengan balasan komentar yang sama kasarnya.
Rekan sejawat,
Reaksi masyarakat terhadap profesi kita memberikan kita banyak hikmah. Kita disadarkan pentingnya komunikasi dalam menghadapi pasien, dan dituntut untuk bekerja lebih hati-hati lagi.
Sekali lagi, jangan tersulut emosi. Ingat lagi apa sih tujuan kita ingin menjadi dokter? Apa tujuan kita bekerja sedemikian kerasnya? Apakah untuk status supaya kita bisa menganggap masyarakat tak berdaya tanpa kita? Apakah untuk penghargaan? Atau memang untuk menolong?
Saya tahu, sulit untuk menghapus citra negatif profesi kita di mata masyarakat. Tapi, kita bisa mulai dari sekarang, dari diri kita sendiri. Hal-hal besar selalu berawal dari hal kecil bukan?
Semua orang bebas beropini, termasuk yang negatif. Tak perlu kita ikut negatif pula. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang menghujat kita? Negativity only leads you nowhere. Tetap semangat, hati-hati dalam bekerja, tetap percaya Gusti Allah mboten sare. Bahkan sebutir niat baik pun akan dihitung kelak. Toh, in the end, its the only thing that matters, right?:)
Disclaimer: Sebenarnya saya sudah "berjanji" pada diri sendiri untuk tidak menulis ramai-ramai soal dokter lagi. Bukan apa-apa, jujur, saya capek juga membaca beratus komentar negatif yang masuk tiap harinya. Saya percaya, when negativity surrounds you, you can not produce a positive life. Bukan berarti juga saya menutup mata dan hati terhadap pandangan orang lain. Engga sama sekali, selama disampaikan dengan baik dan benar. (Baca: Bukan cuma komentar dari orang yang bahkan tidak mau menuliskan nama aslinya hanya untuk menyerang dengan kata-kata kasar). Kalau mau berdiskusi, boleh-boleh saja kok:)
Tapi rupanya tangan saya gatel juga nih ingin menulis setelah membaca respons banyak orang terhadap aksi dokter di timeline Twitter, Path atau Facebook. Seorang teman mengingatkan saya, people will always find something (bad) to say about us and to judge, so why bother? Benar juga, toh semua orang bebas beropini kan?:)
Rekan sejawat yang saya hormati,
Kemarin, tanggal 27 November 2013, kita sebagai dokter se-Indonesia melakukan aksi solidaritas. Ada yang berdoa bersama, tafakur sampai membagikan bunga. Kita memasang pita hitam di lengan jas putih sebagai tanda berbela sungkawa atas tindakan kriminalisasi profesi kita. Sungguh sangat"mengerikan" menyandang gelar dokter di negara tercinta ini. Niat yang baik tak lagi cukup. Usaha yang maksimal tak lagi dinilai. Menyedihkan mengetahui setiap saat kita bekerja menolong orang, ada kemungkinan besar pula kita dianggap sebagai pembunuh. Yang saya ketahui, aksi solidaritas kemarin memang disepakati serentak agar memberikan efek massive pressure pada pemerintah untuk segera membenahi sistem pelayanan kesehatan agar kita sebagai dokter dapat merasa aman saat bekerja. Jika sistem pelayanan kesehatan sudah baik, tentu tak hanya dokter yang senang, pasien notabene masyarakat pun akan ikut sejahtera. Kita ingin sekali orang-orang mulia yang berpengaruh di pemerintahan mengetahui betapa acak-acakannya sistem pelayanan kesehatan kita.
Rekan sejawat,
Banyak reaksi yang menyambut aksi kita kemarin. Lihat saja di timeline twitter, Facebook atau Path. Hampir semua orang berlomba-lomba menghujat profesi kita. Tak sedikit pula media yang memberitakan dengan tidak berimbang. "Dokter Mogok, Pasien Terlantar." Begitu bunyi banyak headline media massa, diperburuk oleh orang-orang yang berkoar di sosmed tanpa mau bersusah payah meng-kroscek benar tidaknya berita tsb. Tidak tahukah mereka bahwa kita tidak pernah berniat menelantarkan pasien? Tidak mengertikah mereka yang menghujat kita dengan membawa sumpah dokter (entah mereka tahu benar bunyinya atau tidak), bahwa aksi yang hanya dijalankan beberapa jam itu tetap menomor satukan pelayanan? Pelayanan emergency tetap dibuka, pasien gawat darurat masih dilayani. Di tempat saya bertugas, aksi solidaritas ini hanya berjalan selama 25 menit. Pasien rawat jalan (baca: TIDAK emergency) ditunda pelayanannya 25 menit. Hanya 25 menit. Kita belajar seumur hidup, mengorbankan banyak hal, bekerja keras tak kenal waktu, untuk apa lagi kalau bukan untuk pasien? Bagaimana bisa kita menelantarkan mereka?
Rekan sejawat,
Setidaknya ada satu hal yang bisa kita catat dari reaksi masyarakat. Bahwa profesi kita sangat dibutuhkan. Bahwa walaupun dihujat besar-besaran, dokter masih sangat diperlukan. Semoga hal ini bisa menyadarkan pemerintah untuk sesegera mungkin membenahi sistem pelayanan kesehatan.
Rekan sejawat,
Saya tahu betapa sedihnya kita semua mengetahui profesi kita, yang kita usahakan seumur hidup dengan sekian pengorbanan, dihujat oleh orang banyak. Saya tahu, bagaimana marahnya kita saat semua orang mencaci-maki dokter. Saya juga mengerti, mangkel sekali rasanya ketika masyarakat menjelek-jelekkan profesi dokter. Saya tahu, banyak pemberitaan tak berimbang yang membuat profesi dokter tambah dijudge ini-itu. Percayalah, saya mengerti. Tapi please, jangan tersulut emosi. Banyak rekan sejawat yang menulis status di sosmed "Rasain tuh gimana rasanya engga ada dokter!" atau "Kalau sakit, engga usah ke dokter ya! Ke dukun aja sekarang!" dan komentar kasar sejenis lainnya. Walaupun kesal juga, saya tetap merasa pernyataan seperti ini tidak pantas. Bagaimanapun, selain pointless, komentar-komentar kasar hanya menambah rusuh suasana. Jangan jugalah mendiskreditkan profesi lain. Kita sama-sama manusia yang membutuhkan orang lain. Tanpa polisi, wartawan, hakim, pengacara, jaksa, buruh, tentu kita tidak bisa bekerja sebagai dokter dengan baik. Tunjukkanlah kalau kita memang tidak arogan, seperti apa yang dianggap banyak orang. Buktikanlah kalau memang kita berpendidikan. Tidak usah menanggapi komentar kasar asal lewat atau asal ngomong tanpa tujuan dengan balasan komentar yang sama kasarnya.
Rekan sejawat,
Reaksi masyarakat terhadap profesi kita memberikan kita banyak hikmah. Kita disadarkan pentingnya komunikasi dalam menghadapi pasien, dan dituntut untuk bekerja lebih hati-hati lagi.
Sekali lagi, jangan tersulut emosi. Ingat lagi apa sih tujuan kita ingin menjadi dokter? Apa tujuan kita bekerja sedemikian kerasnya? Apakah untuk status supaya kita bisa menganggap masyarakat tak berdaya tanpa kita? Apakah untuk penghargaan? Atau memang untuk menolong?
Saya tahu, sulit untuk menghapus citra negatif profesi kita di mata masyarakat. Tapi, kita bisa mulai dari sekarang, dari diri kita sendiri. Hal-hal besar selalu berawal dari hal kecil bukan?
Semua orang bebas beropini, termasuk yang negatif. Tak perlu kita ikut negatif pula. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang menghujat kita? Negativity only leads you nowhere. Tetap semangat, hati-hati dalam bekerja, tetap percaya Gusti Allah mboten sare. Bahkan sebutir niat baik pun akan dihitung kelak. Toh, in the end, its the only thing that matters, right?:)
Raihlah Sukses dengan Mudah !!!
20 Rahasia Menjadi Orang Sukses
by admin
1. Putuskan Untuk Menjadi Orang yang Berprestasi
Kejarlah impian anda. Jadikan kehidupan anda sebuah mahakarya dengan bersedia membayar harga kesuksesan. Orang berprestasi tahu ada harga yang harus dibayar. Dan mereka bersedia berkorban, berjuang, serta bekerja keras tanpa jaminan kesuksesan apa pun demi mewujudkan semua impian mereka.
2. Manfaatkan Semua yang Akan Membantu Anda Meraih Tujuan
Orang sukses terus-menerus mencari apa yang bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan. Mereka melihat ke depan agar dapat memosisikan diri di tempat terbaik ketika kesempatan muncul. Mulailah berpikir ke depan. Dengan berpikir dan berencana ke depan, anda akan mendapakan keuntungan dalam persaingan.
3. Sikap Anda Menentukan Posisi Anda
Sikap anda adalah pola pikir anda. Cara anda melihat segala sesuatu. Apakah anda lebih berfokus pada kemungkinan ataukah tantangan. Pikiran positif tidak menjamin kesuksesan. Tetapi, dengan pikiran positif, peluang sukses anda jauh lebih besar.
4. Efektifkan Hukum Rata-Rata Bagi Anda
Semakin sering anda gagal, semakin besar kesempatan anda untuk akhirnya sukses. Anda bahkan bisa menggagalkan diri sendiri supaya anda sukses. Karena setiap kali gagal, anda mendapatkan pengalaman.
5. Yakinlah Pada Diri Sendiri dan Yakinlah Anda Bisa Meraih Impian Anda
Jika anda yakin sesuatu itu mungkin dan bersedia melakukan apa pun, selama apa pun, yang diperlukan untuk menyelesaikannya, kesuksesan hanyalah masalah waktu. Anda bisa meningkatkan keyakinan diri melalui buku yang anda baca, CD yang anda dengarkan, dan orang-orang dengan siapa anda berhubungan. Jika menaruh hal-hal baik dalam pikiran, anda akan menjadi lebih kuat dan lebih yakin pada diri sendiri.
6. Gunakan Kekuatan Memilih Anda
Apa pun keadaannya, anda memiliki kekuatan untuk memilih bagaimana akan bereaksi. Anda memiliki kekuatan untuk memilih dengan siapa anda akan berhubungan, apa yang akan anda lakukan dengan waktu luang anda, buku apa yang akan anda baca, tindakan apa yang akan anda ambil dalam lima menit ke depan untuk membawa anda lebih dekat ke tujuan. Impian anda ada di sana untuk diwujudkan. Apakah anda akan menciptakan kehidupan yang luar biasa? Hal itu adalah pilihan anda.
7. Pikirkan Hal-Hal yang Memberdayakan
Apa yang anda pikirkan menentukan apa yang anda lakukan. Apa yang terus menerus anda pikirkan akan menentukan posisi akhir anda. Itulah sebabnya berhubungan dengan orang-orang berpikiran sama sangatlah penting. Dengan menciptakan sebuah tim impian dan secara reguler berhubungan dengan mereka, anda akan mempersiapkan diri untuk sukses dengan bantuan peer-pressure (tekanan teman sebaya) yang positif.
8. Yakinlah Bahwa Semua yang Anda Alami Ada Maksudnya
Belajarlah melihat sinar terang di balik setiap awan mendung. Setiap tantangan mengandung pelajaran besar. Tantangan ditujukan untuk memperlambat kita agar kita punya cukup waktu untuk mempelajari berbagai hal yang perlu kita pelajari dalam perjalanan menuju impian kita.
9. Fokuskan Semua Upaya Anda
Ketahui apa yang paling penting bagi anda dan fokuskan semua upaya anda untuk meraihnya. Jika anda memfokuskan semua upaya pada satu tujuan, kemungkinan sukses anda hampir pasti. Jika anda membagi fokus pada dua tujuan, kemungkinan sukses anda turun menjadi 66%. Jika anda memiliki tiga tujuan, kemungkinan sukses anda tinggal 25%. Orang berprestasi tinggi berfokus pada satu tujuan. Setelah meraihnya, mereka beralih ke tujuan selanjutnya.
10. Cara Menjadi Percaya Diri
Kepercayaan diri muncul dari persiapan. Kepercayaan diri tidak bisa dipalsukan. Kepercayaan diri muncul dari melatih suatu keterampilan hingga menguasainya. Begitu menguasai suatu keterampilan, anda pun merasa percaya diri. Begitu menguasai bidang anda, anda akan merasa percaya diri. Dengan kepercayaan diri, anda bisa mulai meraih berbagai hal yang tak pernah anda bayangkan.
11. Singkirkan Pikiran Negatif Sejak Awal
Tantangan terbesar dalam perjalanan menuju kesuksesan adalah menguasai diri sendiri. Apa pun yang sedang anda lakukan, akan selalu ada saat di mana anda meragukan diri sendiri, mengalami konflik batin, serta ingin melakukan berbagai hal yang akan merintangi anda mencapai tujuan. Teruslah bertanya kepada diri sendiri, “Apa selanjutnya yang bisa aku lakukan sekarang agar lebih dekat dengan tujuanku?”
12. Kendalikan Kehidupan Anda Sendiri
Anda mengendalikan semua keputusan anda. Setiap kali memberikan kendali kepada orang lain, anda berhenti menjadi tuan dari takdir anda sendiri. Setiap kali mengambil tanggung jawab pribadi atas tindakan anda, anda mempertahankan kendali. Ambil tanggung jawab dan anda pun akan memegang kemudi kapal kehidupan anda sendiri. Andalah yang memutuskan apa yang akan terjadi.
13. Pelajari Orang Lain Untuk Menciptakan Situasi yang Sama-sama Menguntungkan
Membangun keterampilan berhubungan dengan orang sangatlah penting, karena melalui orang lain anda bisa meraih jauh lebih banyak daripada dengan usaha sendiri. Pandailah menunjukkan kepada orang lain bagaimana mereka bisa benar-benar mendapatkan keuntungan dengan bergabung bersama anda. Pelajari keterampilan kepemimpinan sehingga anda bisa mengajak orang untuk membantu anda meraih misi dalam kehidupan.
14. Kembangkan Keberanian Untuk Sukses
Keberanian berarti menjadi lebih besar daripada keadaan kita. Keberanian bukan berarti tidak ada rasa takut. Keberanian berarti bertindak meskipun merasa takut. Agar sukses dalam kehidupan, anda memerlukan dua jenis keberanian: keberanian untuk bertindak dan keberanian untuk bertahan. Keberanian untuk bertindak muncul dari keyakinan terhadap diri sendiri. Keberanian untuk bertahan muncul dari keinginan untuk sukses.
15. Senti demi Senti, Kesuksesan itu Mudah. Meter demi Meter, Kesuksesan itu Sulit
Tidak ada yang namanya kesuksesan kilat. Anda harus membangun landasan dari hari ke hari untuk waktu yang sangat, sangat lama. Anda harus memetik banyak kemenangan pribadi sebelum mengalami kemenangan publik. Rumah dibangun dengan satu batu bata setiap kali. Pertandingan sepak bola dimenangkan dengan satu permainan setiap kali. Bisnis dibangun dengan satu konsumen setiap kali. Setiap pencapaian besar adalah hasil dari banyak pencapaian yang lebih kecil.
16. Belajarlah dari Kesalahan Anda dan Posisikan Diri Untuk Menang
Kesempatan datang dan pergi. Kehidupan memiliki siklus yang datang dan pergi seperti ombak di lautan. Saat ketinggalan ombak, peselancar tidak membuang energi yang berharga dengan merasa kecewa. Ia belajar dari kesalahan, melakukan penyesuaian, dan memosisikan diri agar dapat memanfaatkan ombak berikutnya dengan sebaik-baiknya. Jadilah seorang peselancar kesempatan. Tempatkan diri pada posisi untuk menang.
17. Seberapa Besar Anda Menginginkan Impian Anda?
Seberapa besar anda menginginkan sesuatu akan menentukan apakah anda akan mendapatkannya. Jika keinginan anda cukup besar, tidak akan ada yang menghentikan anda dan anda akan menemukan jalan. Keinginan memberi anda kekuatan untuk membayar harga kesuksesan. Anda dapat membangun, meningkatkan, dan mempertahankan keinginan dengan membayangkan secara jelas keinginan itu, menggunakan affirmasi secara tepat, dan berhubungan dengan orang-orang berpikiran sama.
18. Lakukan Sesuatu yang Anda Nikmati
Temukan bidang yang cocok bagi anda. Lakukan sesuatu yang anda nikmati. Lakukan sesuatu yang mau anda lakukan tanpa dibayar. Kehidupan terlalu singkat untuk digunakan melakukan hal lain. Jika mencintai pekerjaan anda, anda pasti akan sukses.
19. Cara Menggandakan Pendapatan Anda
Ambil rata-rata penghasilan tahunan lima orang dengan siapa anda paling sering menghabiskan waktu, maka anda mendapatkan penghasilan tahunan anda. Sembilan puluh persen kesuksesan ditentukan oleh dengan siapa anda bergaul. Mengapa demikian? Karena cara berpikir orang sukses berbeda dari orang tidak sukses, dan anda menjadi seperti orang dengan siapa anda berhubungan. Jika anda ingin menggandakan pendapatan, mulailah bergaul dengan orang-orang berpendapatan dua kali lebih besar daripada anda.
20. Raihlah Medali Emas!
Orang berprestasi tinggi tidak puas dengan kualitas menengah. Mereka tidak mau menjadi nomor dua. Mereka tidak puas sekadar berbuat seperti cara orang lain sebelum mereka. Para pemenang selalu ingin menaikkan standar. Mereka ingin unggul dan ingin apa pun yang mereka lakukan berkualitas nomor satu. Mereka melangkah lebih jauh. Mereka melakukan upaya tidak biasa dalam menjalani tugas biasa. Berfokuslah untuk melakukan apa pun dengan kesempurnaan, dan anda pun akan membangun reputasi yang akan membawa anda ke puncak.
Tentang Rasa Seorang Calon Dokter
Tentang Rasa : Seorang Calon Dokter
ada yang bilang, menjadi seorang mahasiswa kedokteran itu enak. pekerjaan yang sudah terjamin, finansial yang tak diragukan, kedudukan yang mulia, dll. bagaimana dengan realitanya? bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa kedokteran versi seorang mahasiswa kedokteran?
Aku masih ingat betul, dulu untuk berada di jalan ini, setidaknya aku harus menyisihkan 50 orang lebih, bahkan diantaranya adalah teman dekatku sendiri, rekan seperjuangan. Pasalnya hanya sekitar 100 kursi yang tersedia dari 5000 orang lebih yang mendaftar di fakultas yang kata kebanyakan orang 'bergengsi' ini, Fakultas Kedokteran. Dengan otak dan kemampuan ekonomi yang pas-pasan, berjibaku di pertarungan ujian ini bagiku sangat melelahkan. Palpitasi, keringat dingin, khawatir berlebih terkadang membersamai moment-moment pra maupun pasca ujian saringan masuk perguruan tinggi ini. Satu awalan sulit, yang akhirnya telah kulewati.
Euphoria akhirnya sempat kurasakan tatkala perjuangan ini membuahkan hasil. 260143 muncul dilayar monitor komputer tanda kelulusan ku di ujian saringan masuk Fakultas Kedokteran yang aku pilih. Euphoria menjadi mahasiswa baru kedokteran, namun sayang tak berlangsung lama. Aku masih ingat betul, hari-hari ku kemudian ditemani textbooks tebal berbahasa inggris, yang terkadang isinya pun sulit aku pahami. Learning issue hampir 3 kali seminggu menghidupkan suasana kamar ku tiap malam nya. Modul-modul laboratorium dan skill lab berbahasa inggris selalu minta dipahami. Belum lagi soal ujian berbahasa inggris nya ditiap 3 bulan dan 6 bulan sekali. Tak tanggung-tanggung, bisa sampai 200 soal berbahasa inggris dikeluarkan, hanya diberi waktu 1 menit aku mengerjakan setiap soalnya. Pantas saja ujian TOEFL diatas 550 menjadi syarat wajib kenaikan tingkatku. Untung saja di ujian ke 3 aku bisa lulus dulu.
Satu lagi yang aku masih ingat betul, ujian lisan. Hampir sekitar 36 kasus yang dipelajari selama satu tahun diujikan dalam waktu 20 menit oleh dua dokter penguji. Dan yang membuat mahasiswa di angkatanku hampir depresi adalah ketika kami harus menghadapi kenyataan, bahwa 50 % nilai kami di tahun itu ditentukan oleh ujian tersebut. Belum lagi ujian praktik yang harus dihadapi, hampir 36 keterampilan klinis yang dipelajari selama setahun, diujikan di 15 stasiun dan harus lulus semua. Gagal di ujian ini setelah satu kali kesempatan remedial membuat kami tak bisa naik ke tingkat selanjutnya. Berbeda dengan fakultas lain, jika kau tak lulus satu mata kuliah, bukan hanya mata kuliah itu saja yang kau ulang, melainkan seluruh mata kuliah. Ibarat tak naik kelas saja ketika masa SMA dulu.
Ada lagi yang masih aku ingat betul, menjadi mahasiswa tingkat akhir. Mungkin kau tahu, di fakultas lain mahasiswa tingkat akhir tentunya akan fokus dengan tugas akhir atau skripsinya. Begitupun dengan kami, hanya saja beda nya, ketika mahasiswa fakultas lain sudah tak ada mata kuliah yang diambil, aku dan kawan-kawan ku masih ada kuliah, tugas, maupun ujian. Belum lagi bulak-balik Bandung-Jatinangor untuk bimbingan berasa jadi warna yang semakin melengkapi. Semacam tingkat terjenuh dalam hidup dihadapi disini.
Sulit kedua aku temui, tentang bagaimana bertahan menjalani proses pendidikan, apalagi untuk mendapatkan hasil memuaskan, "dengan pujian" di wisuda Sarjana Kedokteran.
Masih ada yang aku ingat betul, kali ini tentang aktivitas sosial dan jadwal liburan. Serempak hampir sama kawan-kawan ku di fakultas maupun universitas lain memasuki jadwal libur, rencana backpaker-an, reuni, atau sekadar jalan-jalan banyak mereka persiapkan. Giliran aku mendapat ajakan, kedokteran sedang memasuki fase ujian. Akhirnya hanya bisa berujar selamat jalan dan mengucap salam, cukup menyedihkan memang. Giliran aku libur, waktunya mereka untuk kembali memulai masa perkuliahan, nasib memang. Belum lagi dilema yang dihadapi ketika diamanahi jabatan kemahasiswaan di tingkat Universitas, terkadang rapat ditemani bahan ujian, atau bahkan harus mendelegasikan tugas untuk advokasi ke pihak rektorat karena harus ujian. Ada lagi yang juga aku ingat betul, tentang izin meninggalkan perkuliahan. Hanya 80 % dengan alasan sakit yang disertai surat dokter, acara keluarga, atau ditugaskan pihak Fakultas. Lebih dari itu, atau izin melanggar syarat tersebut, silahkan untuk tak diperkenankan mengikuti ujian, dan kembali mengulang tahun depan.
Sulit selanjutnya yang aku temui, tentang bagaimana menjaga performa sebagai makhluk sosial, bersinergi dengan yang lain, dan menjaga keseimbangan antara akademik dengan aktivitas kemahasiswaan.
Sulit memang, namun bukan berarti tak bisa dilewati. Gelar Sarjana Kedokteran yang membersamai namaku seolah menjadi bukti kesungguhan, bahwa sulitnya proses pendidikan bisa diselesaikan. Euphoria kembali dirasakan, Graha Sanusi seolah jadi saksi bisu perayaan aku dan ratusan wisudawan lain nya . Ucapan selamat dari belasan rekan yang sengaja hadir, dan rangkaian bunga yang juga kuterima semakin membuat khidmat suasana. Terlihat di wajah rekan dari fakultas lain binar mata menjemput masa depan, melanjutkan sekolah S2 atau mencari pekerjaan. Sementara tak lama kemudian, aku harus kembali menghadapi kenyataan, untuk menjadi relawan kemanusiaan, dalam misi pendidikan. (baca: koas, atau dokter muda.)
Masih aku ingat betul, tak lama setelah prosesi wisuda, satu per satu rekan satu angkatan dari fakultas lain sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan beberapa diantaranya sudah memberikan undangan pernikahan. Harus gigit jari, berkaca pada diri yang masih disubsidi penuh oleh keluarga. Sulit lain yang kemudian dirasakan, ketika materi masih jadi bahan pertimbangan utama dalam berkegiatan, ketika membahagiakan orang tua masih jadi harap dan doa terbesar yang masih aku janjikan , ketika harus bersabar untuk melamar gadis yang disukai, atau bahkan mungkin contoh ekstremnya ketika harus merelakan seseorang yang kita harapkan didahului dilamar orang.
Akupun masih ingat betul, dengan peran dokter muda yang dijalankan, tanggung jawab semakin besar harus ditunaikan. Follow Up pasien, ikut operasi, ikut jaga poliklinik, belum lagi bed site teaching, ngerjain laporan kasus, bikin referat, kuliah, dan masih tetap ada ujian. Nilai minimum harus B, kurang dari itu, silahkan mengulang. Belum lagi ada jaga malam IGD maupun Ruangan, masuk koas biasa jam 7 sampai jam 4 sore, lanjut jaga malam dari jam 4 sore sampai jam 6 pagi esoknya, kemudian lanjut aktivitas esoknya sampai jam 4 sore lagi. Begitu ritme hidup ku ketika memasuki jadwal jaga, ibarat jadi zombie keesokan nya. Belum lagi ketika harus ditempatkan di jejaring, bisa di Cibabat, Ujung Berung, Garut, Sumedang, Majalaya, Subang, bahkan mungkin nanti sampai Rancabuaya.
Akupun masih ingat betul, bahwa libur jadi barang langka disini. Tanggal merah, atau weekend bisa kita nikmati jika tak ada jadwal jaga. Libur hanya seminggu setiap 6 bulan sekali, itupun jika tak ada remedial ataupun prolong karena terkena hukuman. Belum lagi izin, tak diperkenankan izin disini, bahkan sakit lebih dari 3 hari dengan surat sakit dari rumah sakit pendidikan yang bersangkutan pun membuat kita harus kembali mengulang bagian yang ditinggalkan.
Sulit yang lain kembali ditemukan, solusi paling tepat tak lain dan tak bukan semata menjaga keseimbangan fisik, mental, pikiran, dan rohani aku pikir.
Akupun masih ingat betul, dengan cerita yang kudengar dan kubaca ketika menjadi dokter kelak. Gaji dokter umum yang dibilang minim, seolah tak sebanding dengan beban kerja yang dipikulnya. Belum lagi jika kita bandingkan dengan gaji para insinyur teknik yang mungkin besarnya bisa berapa kali lipatnya, apalagi jika dibandingkan dengan pengusaha.
Untuk dokter yang ke daerah, aku pun pernah mendengar beberapa kisah nyata yang dialami para pendahulu. Salah seorang alumnus almamater ku di Papua, di daerah konflik, pernah disuguhi tombak oleh penduduk sekitar ketika menjalankan misi pengabdian nya. Berawal dari salah seorang anggota suku yang bertikai, ketika ia terluka terkena parang, secara beramai-ramai ia dibawa ke dokter tersebut. Sambil membawa anggota nya yang terluka, salah seorang anggota suku lain sempat berujar seperti ini ke dokter tersebut, "Jika teman saya mati, dokter tak bisa menolong, maka dokter pun harus mati!". Anggota lain sudah bersiap dengan tombaknya di sekeliling dokter tersebut. Peralatan medis disana terbatas, apalagi ketika didatangi ke rumah seperti itu. Akhirnya, sambil menangis sang dokter mempersiapkan alat seadanya, jarum jahit pakaian, benang jahit pakaian, air hangat, dan api. Sambil berderai air mata, sang dokter memanaskan jarum jahit itu ke api, memasukan benang ke air hangat, lalu mulai membersihkan dan menjahit luka orang yang terluka tersebut menggunakan alat seadanya, jarum dan benang jahit pakaian. Alhamdulillah orang yang terluka tadi selamat, dan dokter itu pun selamat.
Tak usah jauh-jauh ke Papua, di daerah Jawa Barat saja, Sumedang. Aku mendengar cerita langsung dari seorang dokter yang mengalami kejadian ini. Bertugas di sebuah pedalaman, hutan di Sumedang. Pada saat itu sedang santer-santer nya isu terkait dukun "teluh", atau dalam bahasa Indonesia nya dukun santet. Tak ada seorang pun yang berani pada dukun "teluh" saat itu, bahkan kapolsek atau camat setempat pun. Sampai akhirnya suatu ketika, terdapat kejadian salah seorang yang dianggap dukun santet meninggal, ditusuk menggunakan linggis di daerah wajahnya. Tak ayal, tengah malam, sang dokter dibawa ke tengah hutan untuk memeriksa jenazah korban, sendirian. Karena warga sekitar tak ada yang berani menghampiri dukun "teluh" itu, walau hanya sekadar mendekati jenazahnya.
Aku pun masih ingat betul, kejadian akhir-kahir ini, terkait seorang dokter spesialis, konsultan, di sebuah kota besar dan rumah sakit pendidikan pula. Operasi usus buntu seorang artis, pemain band, yang berujung tuntutan mal praktik karena mungkin ada sedikit kekeliruan dalam hal komunikasi. Ini mungkin salah satu cerita dari sekian banyak kejadian yang terjadi.
Entahlah, jika kembali ditelaah, ditelusuri dan dipikirkan. Proses menjadi dokter selalu tak luput dari kesulitan, dimulai dari sulit untuk bisa masuk Fakultas Kedokteran, sulit untuk belajar ketika menjalani proses pendidikan S1 nya, sulit ketika menghadapi program profesi dokter, sulit ketika menjadi dokter umum, baik itu di daerah, maupun di kota besar, bahkan sulit ditemukan walaupun sudah menjadi seorang dokter konsulen. Sulit memang.Bahkan untuk sekadar membayangkan nya pun, aku yakin sebagian dari kita memiliki kesulitan.
Tapi ingatlah kawan, bahwa sulit tak selamanya sulit, sebagaimana mudah tak selamanya mudah. Hanya saja yang dikhawatirkan kesulitan punya nafas lebih panjang dibandingkan semangat kita untuk mengalahkan nya. Sadari benar bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al Insyiraah ayat 6 yang artinya:
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Menjadi hamba Allah adalah suatu kepastian. Menjadi mahasiswa kedokteran, dokter muda, atau menjadi dokter adalah pilihan hidup untuk menjemput takdir sejarah kita. Menjadi aktivis, giat berkontribusi untuk umat adalah saringan alami untuk membuktikan pada dunia bahwa kita adalah hamba yang berbeda dari kebanyakan hamba yang Allah ciptakan. Seperti yang dikatakan Shalahudin al-Ayubi, memang bukan kita yang memilih takdir. Takdirlah yang memilih kita. Tapi bagaimanapun, takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya di saat yang paling tepat. Jangan sampai takdir hidup kita tak pernah sampai pada tujuan, jangan sampai mimpi kita terlalu sederhana, dan perjalanan cita-cita sangat lamban dan tidak menghantarkan. Cita-cita punya syarat penuainya, begitupun harapan dan keinginan punya harga amalnya. Kesungguhan mutlak jadi penuainya, dan tekad adalah pengantarnya. Karena ketika pikiran memberikan kita arah, tekadlah yang mendorong kita untuk melangkah, ketika pikiran menerangi jalan kehidupan kita, tekadlah yang meringankan kaki kita menjalaninya. Menjadi apapun kita saat ini, mulai awali dengan tekad untuk mencapainya.
Kesulitan, jenuh, dan menghadapi berbagai permasalahan itu fitrah. Menghadapi kenyataan pahit itu perlu. Karena terkadang manis itu dilalui setelah pahit kita lewati. Menghadapi kenyataan pahit saat ini bisa jadi sebuah pembelajaran, seolah menjadi jeda, untuk kita berbenah, untuk kita mengambil hikmah. Ibarat hujan, akan ada pelangi indah yang kita nantikan. Dan yakinlah kawan, bahwa pertolongan Allah itu hadir sesuai dengan kadar ujian yang Ia berikan.
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya pertolongan itu datang dari Allah SWT pada seorang hamba sesuai dengan kadar ujiannya dan kesabaran itu diberikan oleh Allah SWT kepada seorang hamba sesuai dengan musibahnya."
—HR. Baihaqi
Kesulitan seolah menjadi teman yang membersamai proses menjemput takdir sejarah dokter kita. Untuk itu, keberaniaan nampak menjadi penawarnya. Jangan sampai kesulitan membuat kita patah karena lelah. Akan tetapi, tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri. Risiko adalah pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus-menerus. Di dalam kesabaran terdapat banyak kebaikan, dibalik kesabaran ada kemenangan.
Kesulitan yang senantiasa membersamai ini seolah menjadi tantangan yang perlu dilewati untuk kemudian kita nikmati ganjaran nya sesuai dengan kadar lelah yang sudah kita kerjakan. Alasan yang membuatku bertahan di jalan ini hingga kini adalah karena disini aku temukan banyak jalan untuk berbagi. Semangat berbagi ini adalah bukti keluhuran jiwa. Konteksnya bukan lagi memenuhi kewajiban, melainkan diatas itu, berbagi lebih mencerminkan rasa syukur, semangat berbakti, dan semangat untuk tidak menjadi mercusuar di tengah kondisi kurang beruntung yang dialami orang lain.
Berada di jalan ini, sampai saat ini telah memberikan kesempatan bagiku bersama beberapa rekan dan mitra lain nya untuk memberikan pengobatan gratis untuk ribuan orang di berbagai tempat, memberikan bantuan medis dalam fase tanggap bencana hampir di setiap bencana yang terjadi terutama di wilayah Jawa Barat, juga menjalankan recovery dan rehabilitasi setelahnya. Selain itu berbagai upaya promotif preventif berupa edukasi kesehatan melalui penyuluhan telah dilakukan untuk ribuan orang di berbagai tempat dan berbagai kalangan, mulai dari murid TK hingga masyarakat lanjut usia. Pendampingan medis untuk berbagai lembaga, organisasi, dan kegiatan atau acara kerap dilakukan. Pembinaan kesehatan menjadi agenda yang diperhatikan, pembuatan kurikulum kesehatan dan monitoring kesehatan ratusan anak jalanan, hingga pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi kader telah dilakukan. Pelatihan kesehatan pun telah dilakukan untuk ribuan orang dari berbagai kalangan di berbagai kegiatan, dengan beragam materi kesehatan. Memeriksa kesehatan ribuan orang, mulai dari kalangan siswa pendidikan anak usia dini (PAUD), pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat lansia juga telah dilakukan, dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk ribuan murid PAUD hingga siswa SD menjadi agenda yang masih dilakukan hingga kini. Berada di jalan ini bagiku memberi kesempatan untuk bisa menciptakan senyum, menjawab harap, dan menghadirkan doa pada ribuan masyarakat di Indonesia.
Selalu ada kemudahan dibalik kesulitan, selalu ada kelapangan dibalik kesusahan, selalu ada ganjaran atas setiap kadar lelah yang dilakukan, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, dan selalu ada bahagia dibalik syukur dan sabar yang dihadirkan.
Dunia kedokteran, ibarat bersakit-sakit dahulu, sulit kemudian. Tapi sekali lagi yakinlah, bahwa ganjaranmu tergantung kadar lelahmu. Ada ganjaran dari setiap sakit dan sulit yang dilewati. Semakin tinggi resiko dan tingkat kesulitan nya, semakin banyak hikmah dan berkah yang kita peroleh di dalamnya. Ingatlah bahwa segala puncak prestasi harus teruji, begitupun menjadi ahli surga harus terbukti di dalam kesungguhan dan kesabaran menghadapi ujian hidup di Jalan Nya. Pahala Allah tidak pernah salah, bagaimanapun niat dan langkah untuk beramal Islami, selalu ada surga dibalik itu.
Selamat menjalankan sisa usia, menjemput keberkahan dalam setiap kesulitan yang dihadapi. Selamat menyehatkan bangsa dengan sehat seutuhnya, terciptanya kondisi fisik, mental, dan ruhani yang baik, yang mampu produktif secara ekonomi maupun sosial. Dan seperti yang dikatakan (alm) KH Rahmat Abdullah, teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.
Euphoria akhirnya sempat kurasakan tatkala perjuangan ini membuahkan hasil. 260143 muncul dilayar monitor komputer tanda kelulusan ku di ujian saringan masuk Fakultas Kedokteran yang aku pilih. Euphoria menjadi mahasiswa baru kedokteran, namun sayang tak berlangsung lama. Aku masih ingat betul, hari-hari ku kemudian ditemani textbooks tebal berbahasa inggris, yang terkadang isinya pun sulit aku pahami. Learning issue hampir 3 kali seminggu menghidupkan suasana kamar ku tiap malam nya. Modul-modul laboratorium dan skill lab berbahasa inggris selalu minta dipahami. Belum lagi soal ujian berbahasa inggris nya ditiap 3 bulan dan 6 bulan sekali. Tak tanggung-tanggung, bisa sampai 200 soal berbahasa inggris dikeluarkan, hanya diberi waktu 1 menit aku mengerjakan setiap soalnya. Pantas saja ujian TOEFL diatas 550 menjadi syarat wajib kenaikan tingkatku. Untung saja di ujian ke 3 aku bisa lulus dulu.
Satu lagi yang aku masih ingat betul, ujian lisan. Hampir sekitar 36 kasus yang dipelajari selama satu tahun diujikan dalam waktu 20 menit oleh dua dokter penguji. Dan yang membuat mahasiswa di angkatanku hampir depresi adalah ketika kami harus menghadapi kenyataan, bahwa 50 % nilai kami di tahun itu ditentukan oleh ujian tersebut. Belum lagi ujian praktik yang harus dihadapi, hampir 36 keterampilan klinis yang dipelajari selama setahun, diujikan di 15 stasiun dan harus lulus semua. Gagal di ujian ini setelah satu kali kesempatan remedial membuat kami tak bisa naik ke tingkat selanjutnya. Berbeda dengan fakultas lain, jika kau tak lulus satu mata kuliah, bukan hanya mata kuliah itu saja yang kau ulang, melainkan seluruh mata kuliah. Ibarat tak naik kelas saja ketika masa SMA dulu.
Ada lagi yang masih aku ingat betul, menjadi mahasiswa tingkat akhir. Mungkin kau tahu, di fakultas lain mahasiswa tingkat akhir tentunya akan fokus dengan tugas akhir atau skripsinya. Begitupun dengan kami, hanya saja beda nya, ketika mahasiswa fakultas lain sudah tak ada mata kuliah yang diambil, aku dan kawan-kawan ku masih ada kuliah, tugas, maupun ujian. Belum lagi bulak-balik Bandung-Jatinangor untuk bimbingan berasa jadi warna yang semakin melengkapi. Semacam tingkat terjenuh dalam hidup dihadapi disini.
Sulit kedua aku temui, tentang bagaimana bertahan menjalani proses pendidikan, apalagi untuk mendapatkan hasil memuaskan, "dengan pujian" di wisuda Sarjana Kedokteran.
Masih ada yang aku ingat betul, kali ini tentang aktivitas sosial dan jadwal liburan. Serempak hampir sama kawan-kawan ku di fakultas maupun universitas lain memasuki jadwal libur, rencana backpaker-an, reuni, atau sekadar jalan-jalan banyak mereka persiapkan. Giliran aku mendapat ajakan, kedokteran sedang memasuki fase ujian. Akhirnya hanya bisa berujar selamat jalan dan mengucap salam, cukup menyedihkan memang. Giliran aku libur, waktunya mereka untuk kembali memulai masa perkuliahan, nasib memang. Belum lagi dilema yang dihadapi ketika diamanahi jabatan kemahasiswaan di tingkat Universitas, terkadang rapat ditemani bahan ujian, atau bahkan harus mendelegasikan tugas untuk advokasi ke pihak rektorat karena harus ujian. Ada lagi yang juga aku ingat betul, tentang izin meninggalkan perkuliahan. Hanya 80 % dengan alasan sakit yang disertai surat dokter, acara keluarga, atau ditugaskan pihak Fakultas. Lebih dari itu, atau izin melanggar syarat tersebut, silahkan untuk tak diperkenankan mengikuti ujian, dan kembali mengulang tahun depan.
Sulit selanjutnya yang aku temui, tentang bagaimana menjaga performa sebagai makhluk sosial, bersinergi dengan yang lain, dan menjaga keseimbangan antara akademik dengan aktivitas kemahasiswaan.
Sulit memang, namun bukan berarti tak bisa dilewati. Gelar Sarjana Kedokteran yang membersamai namaku seolah menjadi bukti kesungguhan, bahwa sulitnya proses pendidikan bisa diselesaikan. Euphoria kembali dirasakan, Graha Sanusi seolah jadi saksi bisu perayaan aku dan ratusan wisudawan lain nya . Ucapan selamat dari belasan rekan yang sengaja hadir, dan rangkaian bunga yang juga kuterima semakin membuat khidmat suasana. Terlihat di wajah rekan dari fakultas lain binar mata menjemput masa depan, melanjutkan sekolah S2 atau mencari pekerjaan. Sementara tak lama kemudian, aku harus kembali menghadapi kenyataan, untuk menjadi relawan kemanusiaan, dalam misi pendidikan. (baca: koas, atau dokter muda.)
Masih aku ingat betul, tak lama setelah prosesi wisuda, satu per satu rekan satu angkatan dari fakultas lain sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan beberapa diantaranya sudah memberikan undangan pernikahan. Harus gigit jari, berkaca pada diri yang masih disubsidi penuh oleh keluarga. Sulit lain yang kemudian dirasakan, ketika materi masih jadi bahan pertimbangan utama dalam berkegiatan, ketika membahagiakan orang tua masih jadi harap dan doa terbesar yang masih aku janjikan , ketika harus bersabar untuk melamar gadis yang disukai, atau bahkan mungkin contoh ekstremnya ketika harus merelakan seseorang yang kita harapkan didahului dilamar orang.
Akupun masih ingat betul, dengan peran dokter muda yang dijalankan, tanggung jawab semakin besar harus ditunaikan. Follow Up pasien, ikut operasi, ikut jaga poliklinik, belum lagi bed site teaching, ngerjain laporan kasus, bikin referat, kuliah, dan masih tetap ada ujian. Nilai minimum harus B, kurang dari itu, silahkan mengulang. Belum lagi ada jaga malam IGD maupun Ruangan, masuk koas biasa jam 7 sampai jam 4 sore, lanjut jaga malam dari jam 4 sore sampai jam 6 pagi esoknya, kemudian lanjut aktivitas esoknya sampai jam 4 sore lagi. Begitu ritme hidup ku ketika memasuki jadwal jaga, ibarat jadi zombie keesokan nya. Belum lagi ketika harus ditempatkan di jejaring, bisa di Cibabat, Ujung Berung, Garut, Sumedang, Majalaya, Subang, bahkan mungkin nanti sampai Rancabuaya.
Akupun masih ingat betul, bahwa libur jadi barang langka disini. Tanggal merah, atau weekend bisa kita nikmati jika tak ada jadwal jaga. Libur hanya seminggu setiap 6 bulan sekali, itupun jika tak ada remedial ataupun prolong karena terkena hukuman. Belum lagi izin, tak diperkenankan izin disini, bahkan sakit lebih dari 3 hari dengan surat sakit dari rumah sakit pendidikan yang bersangkutan pun membuat kita harus kembali mengulang bagian yang ditinggalkan.
Sulit yang lain kembali ditemukan, solusi paling tepat tak lain dan tak bukan semata menjaga keseimbangan fisik, mental, pikiran, dan rohani aku pikir.
Akupun masih ingat betul, dengan cerita yang kudengar dan kubaca ketika menjadi dokter kelak. Gaji dokter umum yang dibilang minim, seolah tak sebanding dengan beban kerja yang dipikulnya. Belum lagi jika kita bandingkan dengan gaji para insinyur teknik yang mungkin besarnya bisa berapa kali lipatnya, apalagi jika dibandingkan dengan pengusaha.
Untuk dokter yang ke daerah, aku pun pernah mendengar beberapa kisah nyata yang dialami para pendahulu. Salah seorang alumnus almamater ku di Papua, di daerah konflik, pernah disuguhi tombak oleh penduduk sekitar ketika menjalankan misi pengabdian nya. Berawal dari salah seorang anggota suku yang bertikai, ketika ia terluka terkena parang, secara beramai-ramai ia dibawa ke dokter tersebut. Sambil membawa anggota nya yang terluka, salah seorang anggota suku lain sempat berujar seperti ini ke dokter tersebut, "Jika teman saya mati, dokter tak bisa menolong, maka dokter pun harus mati!". Anggota lain sudah bersiap dengan tombaknya di sekeliling dokter tersebut. Peralatan medis disana terbatas, apalagi ketika didatangi ke rumah seperti itu. Akhirnya, sambil menangis sang dokter mempersiapkan alat seadanya, jarum jahit pakaian, benang jahit pakaian, air hangat, dan api. Sambil berderai air mata, sang dokter memanaskan jarum jahit itu ke api, memasukan benang ke air hangat, lalu mulai membersihkan dan menjahit luka orang yang terluka tersebut menggunakan alat seadanya, jarum dan benang jahit pakaian. Alhamdulillah orang yang terluka tadi selamat, dan dokter itu pun selamat.
Tak usah jauh-jauh ke Papua, di daerah Jawa Barat saja, Sumedang. Aku mendengar cerita langsung dari seorang dokter yang mengalami kejadian ini. Bertugas di sebuah pedalaman, hutan di Sumedang. Pada saat itu sedang santer-santer nya isu terkait dukun "teluh", atau dalam bahasa Indonesia nya dukun santet. Tak ada seorang pun yang berani pada dukun "teluh" saat itu, bahkan kapolsek atau camat setempat pun. Sampai akhirnya suatu ketika, terdapat kejadian salah seorang yang dianggap dukun santet meninggal, ditusuk menggunakan linggis di daerah wajahnya. Tak ayal, tengah malam, sang dokter dibawa ke tengah hutan untuk memeriksa jenazah korban, sendirian. Karena warga sekitar tak ada yang berani menghampiri dukun "teluh" itu, walau hanya sekadar mendekati jenazahnya.
Aku pun masih ingat betul, kejadian akhir-kahir ini, terkait seorang dokter spesialis, konsultan, di sebuah kota besar dan rumah sakit pendidikan pula. Operasi usus buntu seorang artis, pemain band, yang berujung tuntutan mal praktik karena mungkin ada sedikit kekeliruan dalam hal komunikasi. Ini mungkin salah satu cerita dari sekian banyak kejadian yang terjadi.
Entahlah, jika kembali ditelaah, ditelusuri dan dipikirkan. Proses menjadi dokter selalu tak luput dari kesulitan, dimulai dari sulit untuk bisa masuk Fakultas Kedokteran, sulit untuk belajar ketika menjalani proses pendidikan S1 nya, sulit ketika menghadapi program profesi dokter, sulit ketika menjadi dokter umum, baik itu di daerah, maupun di kota besar, bahkan sulit ditemukan walaupun sudah menjadi seorang dokter konsulen. Sulit memang.Bahkan untuk sekadar membayangkan nya pun, aku yakin sebagian dari kita memiliki kesulitan.
Tapi ingatlah kawan, bahwa sulit tak selamanya sulit, sebagaimana mudah tak selamanya mudah. Hanya saja yang dikhawatirkan kesulitan punya nafas lebih panjang dibandingkan semangat kita untuk mengalahkan nya. Sadari benar bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al Insyiraah ayat 6 yang artinya:
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Menjadi hamba Allah adalah suatu kepastian. Menjadi mahasiswa kedokteran, dokter muda, atau menjadi dokter adalah pilihan hidup untuk menjemput takdir sejarah kita. Menjadi aktivis, giat berkontribusi untuk umat adalah saringan alami untuk membuktikan pada dunia bahwa kita adalah hamba yang berbeda dari kebanyakan hamba yang Allah ciptakan. Seperti yang dikatakan Shalahudin al-Ayubi, memang bukan kita yang memilih takdir. Takdirlah yang memilih kita. Tapi bagaimanapun, takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya di saat yang paling tepat. Jangan sampai takdir hidup kita tak pernah sampai pada tujuan, jangan sampai mimpi kita terlalu sederhana, dan perjalanan cita-cita sangat lamban dan tidak menghantarkan. Cita-cita punya syarat penuainya, begitupun harapan dan keinginan punya harga amalnya. Kesungguhan mutlak jadi penuainya, dan tekad adalah pengantarnya. Karena ketika pikiran memberikan kita arah, tekadlah yang mendorong kita untuk melangkah, ketika pikiran menerangi jalan kehidupan kita, tekadlah yang meringankan kaki kita menjalaninya. Menjadi apapun kita saat ini, mulai awali dengan tekad untuk mencapainya.
Kesulitan, jenuh, dan menghadapi berbagai permasalahan itu fitrah. Menghadapi kenyataan pahit itu perlu. Karena terkadang manis itu dilalui setelah pahit kita lewati. Menghadapi kenyataan pahit saat ini bisa jadi sebuah pembelajaran, seolah menjadi jeda, untuk kita berbenah, untuk kita mengambil hikmah. Ibarat hujan, akan ada pelangi indah yang kita nantikan. Dan yakinlah kawan, bahwa pertolongan Allah itu hadir sesuai dengan kadar ujian yang Ia berikan.
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya pertolongan itu datang dari Allah SWT pada seorang hamba sesuai dengan kadar ujiannya dan kesabaran itu diberikan oleh Allah SWT kepada seorang hamba sesuai dengan musibahnya."
—HR. Baihaqi
Kesulitan seolah menjadi teman yang membersamai proses menjemput takdir sejarah dokter kita. Untuk itu, keberaniaan nampak menjadi penawarnya. Jangan sampai kesulitan membuat kita patah karena lelah. Akan tetapi, tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri. Risiko adalah pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus-menerus. Di dalam kesabaran terdapat banyak kebaikan, dibalik kesabaran ada kemenangan.
Kesulitan yang senantiasa membersamai ini seolah menjadi tantangan yang perlu dilewati untuk kemudian kita nikmati ganjaran nya sesuai dengan kadar lelah yang sudah kita kerjakan. Alasan yang membuatku bertahan di jalan ini hingga kini adalah karena disini aku temukan banyak jalan untuk berbagi. Semangat berbagi ini adalah bukti keluhuran jiwa. Konteksnya bukan lagi memenuhi kewajiban, melainkan diatas itu, berbagi lebih mencerminkan rasa syukur, semangat berbakti, dan semangat untuk tidak menjadi mercusuar di tengah kondisi kurang beruntung yang dialami orang lain.
Berada di jalan ini, sampai saat ini telah memberikan kesempatan bagiku bersama beberapa rekan dan mitra lain nya untuk memberikan pengobatan gratis untuk ribuan orang di berbagai tempat, memberikan bantuan medis dalam fase tanggap bencana hampir di setiap bencana yang terjadi terutama di wilayah Jawa Barat, juga menjalankan recovery dan rehabilitasi setelahnya. Selain itu berbagai upaya promotif preventif berupa edukasi kesehatan melalui penyuluhan telah dilakukan untuk ribuan orang di berbagai tempat dan berbagai kalangan, mulai dari murid TK hingga masyarakat lanjut usia. Pendampingan medis untuk berbagai lembaga, organisasi, dan kegiatan atau acara kerap dilakukan. Pembinaan kesehatan menjadi agenda yang diperhatikan, pembuatan kurikulum kesehatan dan monitoring kesehatan ratusan anak jalanan, hingga pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi kader telah dilakukan. Pelatihan kesehatan pun telah dilakukan untuk ribuan orang dari berbagai kalangan di berbagai kegiatan, dengan beragam materi kesehatan. Memeriksa kesehatan ribuan orang, mulai dari kalangan siswa pendidikan anak usia dini (PAUD), pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat lansia juga telah dilakukan, dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk ribuan murid PAUD hingga siswa SD menjadi agenda yang masih dilakukan hingga kini. Berada di jalan ini bagiku memberi kesempatan untuk bisa menciptakan senyum, menjawab harap, dan menghadirkan doa pada ribuan masyarakat di Indonesia.
Selalu ada kemudahan dibalik kesulitan, selalu ada kelapangan dibalik kesusahan, selalu ada ganjaran atas setiap kadar lelah yang dilakukan, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, dan selalu ada bahagia dibalik syukur dan sabar yang dihadirkan.
Dunia kedokteran, ibarat bersakit-sakit dahulu, sulit kemudian. Tapi sekali lagi yakinlah, bahwa ganjaranmu tergantung kadar lelahmu. Ada ganjaran dari setiap sakit dan sulit yang dilewati. Semakin tinggi resiko dan tingkat kesulitan nya, semakin banyak hikmah dan berkah yang kita peroleh di dalamnya. Ingatlah bahwa segala puncak prestasi harus teruji, begitupun menjadi ahli surga harus terbukti di dalam kesungguhan dan kesabaran menghadapi ujian hidup di Jalan Nya. Pahala Allah tidak pernah salah, bagaimanapun niat dan langkah untuk beramal Islami, selalu ada surga dibalik itu.
Selamat menjalankan sisa usia, menjemput keberkahan dalam setiap kesulitan yang dihadapi. Selamat menyehatkan bangsa dengan sehat seutuhnya, terciptanya kondisi fisik, mental, dan ruhani yang baik, yang mampu produktif secara ekonomi maupun sosial. Dan seperti yang dikatakan (alm) KH Rahmat Abdullah, teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.
Cerita Seorang Koas
Tak henti bersyukur diri ini, bisa berada di posisi ini, didoakan orang banyak. Salah satunya supaya jadi dokter yang bermanfaat bagi semua dan barokah (hihihi.. doanya mama ellisma – salah satu geng nero yang selama sekolah dokter ini maen2 bareng saya, hihi), dan doa semoga bisa meraih mimpi kita masing2, amiinn.. Alhamdulillah saya masih diijinkan Allah bermimpi, difasilitasi orang tua, dan diijinkan berada di jalan mimpi ini.
Teringat kisah saat saya koas ilmu penyakit dalam aka interna dahulu. Kisah seorang pasien yang sangat menyentuh hati saya. Seorang wanita muda berusia 31 tahun yang didiagnosis Lupus Nefritis. Lupus atau Systemic Lupus Eritematous (SLE) adalah penyakit autoimun yang menyerang tubuh seseorang. Gampangnya, sel-sel imun yang seharusnya menjaga tubuh dari serangan bakteri, dan membunuh bakteri yang masuk. Tapi pada pasien dengan SLE, sel-sel imun ini malah menghancurkan organ2 tubuh manusia itu sendiri. Terdapat kekacauan dari sel imun dalam mengidentifikasi sel ini sel tubuh sendiri atau sel antigen asing yang harus dimusnahkan. Well, pada pasien SLE, dapat terjadi komplikasi yang lebih jauh, salah satu contohnya adalah lupus nefritis. Lupus Nefritis yaitu komplikasi yang terjadi di ginjal, menyebabkan fungsi ginjal terganggu bahkan rusak. Ginjal tak dapat menghasilkan urin. Hasil metabolisme yang harusnya dikeluarkan diurin gagal diekskresi. Terjadi kerusakan pada sel2 glomerulus, dst dari ginjal.
Well, itulah yang terjadi pada pasien yang aku tangani di bangsal RS. Kala itu, saya masih dokter muda junior di rotasi IPD. Bertugas selama 2 minggu penuh di bangsal. Follow up setiap pagi pada setiap pasienku, bersama 2 orang senior saya yang sungguh baik dan enak diajak kerjasama.
Setiap pagi, saya berkeliling untuk follow up sekitar 12-15 pasien. Setiap pasien saya tanyai keadaan pagi ini, apa saja keluhan yang dirasakan serta anamnesis lainnya. Tak lupa saya melakukan pemeriksaan fisik untuk saya bandingkan dengan pemeriksaan 1 hari yang lalu sesuai yang tertulis di rekam medis. Ketika sampai di bed pasien wanita muda itu, dia banyak bercerita. Dia sudah tidak asing dan bolak balik ngamar di RS. Sakit lupus ini sudah dia derita 5 tahun-an. Awalnya, dia bercerita, merasa sering cepat lelah. Kemudian apabila terkena sinar matahari, akan muncul bintik2 kemerahan di wajahnya, dan badannya mudah panas tinggi, bahkan hingga 40 derajat celcius. Terakhir, muncul bintik2 kemerahan (ptekiae) di seluruh kaki dan tangannya. Sesak nafas juga sering dirasakan. Pasien ini masuk dalam kategori penting. Setiap kali operan dengan dokter muda jaga selalu menyebutkan keadaan pasien ini. Seringkali tengah malam tiba2 demam tinggi. Sampai saya yang ikut merawatnya, meletakkan termometer di atas meja disebelah ranjangnya untuk mempercepat pendeteksian gejala itu.
Pagi itu, diagnosis lupus nefritis belum tegak, masih SLE suspek komplikasi lupus nefritis dd entahlah saya lupa. Dia sering mendapatkan obat-obatan untuk menguras cairan dalam tubuhnya yang tidak mampu dikeluarkan oleh ginjal. Beberapa hari kemudian, hasil biopsi keluar, dan pasien dinyatakan telah mengalami komplikasi pada ginjalnya.
Pagi berikutnya, dia semakin sesak, dan ini tidak membaik. Pemeriksaan serum elektrolit menunjukkan kadar kalium yang tinggi. Pemberian kalsium glukonas, insulin, dan D40 tidak mampu menurunkan kadar kalium dalam darahnya. Maka pasien diindikasikan untuk dilakukan hemodialisis cito (cuci darah yang dilakukan pada keadaan emergensi). Pasien segera dijadwalkan HD hari itu juga. Sore itu, saya pulang kerumah dengan hati tak keruan. Smoga semuanya baik2 saja dan teman saya yang berjaga malam dapat meng”aman”kan situasi.
Follow up pagi harinya, ternyata keadaannya membaik. Badannya sudah berkurang bengkaknya. Nafasnya sudah tidak sesak lagi. Dia merasa enteng dan enakan setelah HD. Alhamdulillahh.. Follow up pagi itu dia bercerita banyak hal. Tentang suaminya yang sangat sayang dan menunggu dengan sabar disebelahnya walaupun dia sakit. Tentang keinginannya untuk segera pulang karena kangen dengan anak satu2nya yang masih balita. Tentang bagaimana kemarin dia sangat sesak dan sekarang dia membaik. Saya lega. Sayangnya saat itu adalah terakhir saya memfollow up dia. Keesokan harinya, saya harus rolling ke bangsal lain untuk memfollow up pasien lain. Perawatan wanita muda itu saya operkan ke teman sesama dokter muda yang giliran tugas di bangsal itu. Informasi sudah lengkap juga tertulis di rekam medis.
Baru sekitar seminggu saya bertugas di bangsal yang baru, saya berjumpa teman saya yang dulu saya beri operan tugas di bangsal lama. Dia menemukan termometer saya dan mengembalikannya. Bahkan saya lupa kalau termometer itu tak ada di tas peralatan medis saya. Saya lupa terakhir meletakkannya dimana.
Saya: “Kamu nemu termometerku dimana?”
Teman saya : “Di meja sebelah ranjang pasien”
S : “Ohh iya ya, makasih ya. Aku lupa punya termometer. Pasien yang mana sih?”
TS : “Pasien SLE yang komplikasi ke ginjal”
S : “Ohh iyaaa ibu ituu.. Gimana sekarang kabarnya? itu dulu kan pasienku pas tugas di bangsal yang sekarang km tempati”
TS : ” Iya, ibu itu sudah meninggal kemarin malam”
S : “Innalillahi wa inna lillahi rojiun.. kenapa? sesak lagi?”
TS : “Iya, sesak dan bengkak lagi, malem2 juga ga mungkin harus segera HD cito”
Saya: “Kamu nemu termometerku dimana?”
Teman saya : “Di meja sebelah ranjang pasien”
S : “Ohh iya ya, makasih ya. Aku lupa punya termometer. Pasien yang mana sih?”
TS : “Pasien SLE yang komplikasi ke ginjal”
S : “Ohh iyaaa ibu ituu.. Gimana sekarang kabarnya? itu dulu kan pasienku pas tugas di bangsal yang sekarang km tempati”
TS : ” Iya, ibu itu sudah meninggal kemarin malam”
S : “Innalillahi wa inna lillahi rojiun.. kenapa? sesak lagi?”
TS : “Iya, sesak dan bengkak lagi, malem2 juga ga mungkin harus segera HD cito”
Ya Allah.. saya berdoa kepadamu, Sembuhkanlah pasien2ku dengan kehendak Mu. Bila memang tidak tertolong, jadikanlah masa sakitnya ini sebagai penghapus dosa2 di dunia sehingga dia dapat meninggal dengan tenang dan ringan timbangan dosa2nya kelak. Amin
Langganan:
Postingan (Atom)





