Minggu, 13 Juli 2014
Pegabdian Dokter
Pengabdian. Pengabdian merupakan kata-kata agung yang sangat sering diucapkan setiap manusia yang merasa bahwa dirinya memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi. Pengabdian pun menjadi salah satu dari tri darma perguruan tinggi. Hal itu menjadi nomor tiga, tapi menjadi penutup dan menjadi suatu yang harus disadari setiap mahasiswa. Setelah mahasiswa-mahasiswa itu bisa melakukan penelitian atau pengembangan ilmu, segala hal itu harus bisa memberikan manfaat kepada masyarakat luas sebagai bentuk pengabdian.
Sebagai seorang mahasiswa kedokteran yang pada akhirnya akan menjadi dokter, kita perlu memikirkannya. Suatu kebermanfaatan apa yang dapat kita berikan untuk masyarakat luas. Banyak pertanyaan yang akan bermunculan. Hanya akan menjadi dokter biasa yang melakukan tugasnya hanya sekedar materi sajakah? Atau kita bisa menjadi dokter yang mampu menjadi seorang dokter yang benar-benar dokter. Dokter yang dengan anggapan masyarakat merupakan orang yang begitu mulia bisakah dengan sepenuh memberikan banyak manfaat kepada masyarakat?
Ketika kita menjadi seorang dokter pada akhirnya, banyak sekali jalan untuk kita bisa melakukan banyak hal bagi masyarakat. Jangan kita beranggapan bahwa hal yang bisa kita lakukan sebagai dokter hanya sebatas menyembuhkan. Ingatkah kita saat sebelum Indonesia merdeka, siapa orang-orang yang memulai menggerakan rakyat Indonesia untuk memulai hari kebangkitannya? Ingatkah pada organisasi Budi Utomo? Para pelajar STOVIA atau yang bisa kita sebut fakultas kedokteran saat ini, mereka merupakan orang-orang pertama yang sadar akan ketertindasan kita oleh penjajah Belanda pada masa itu. Mereka adalah orang-orang kedokteran. Selain mereka, masih banyak lagi pejuang-pejuang kemerdekaan kita yang mereka adalah seorang dokter. Mereka melakukan hal itu atas dasar keinginan melakukan pengabdian kepada bangsanya, Bangsa Indonesia.
Seorang dokter di masa penjajahan saat itu, tidak perlu mengangkat senjata, tidak perlu ikut merencanakan strategi peperangan menggunakan bambu runcing. Hanya pemikiran mereka yang begitu besar membuktikan bahwa negara kita, Indonesia, berhak merdeka seperti bangsa-bangsa lain. Hanya itu. Mereka menjadi penggerak bagi anak-anak muda Indonesia. Tapi dengan itu mereka buktikan bahwa mereka peduli akan negaranya, dengan itu mereka buktikan bentuk pengabdian pada bangsanya. Mereka tidak diam, mereka bergerak untuk melakukan hal itu.
Saat sekarang, negara kita sudah merdeka. Kita sebagai dokter-dokter nanti pada akhirnya, tidak perlu lagi memikirkan bagaimana caranya agar menggerakan rakyat untuk maju berperang melawan penjajah. Lalu bagaimana bukti pengabdian dokter untuk Indonesia saat ini? Ketika seorang dokter bekerja di kota-kota besar dan terpusat disana dengan mereka melakukan pekerjaan hanya berbatas materi, sudahkah dokter itu melakukan pengabdiannya? Iya, tentu belum. Tapi bukan berarti dokter pun tidak bisa melakukan pekerjaannya untuk mencari nafkah. Bukan berarti dengan menjadi dokter kita tidak boleh mencari nafkah yang sebanyak-banyaknya. Hanya saja kadang dari mencari nafkah itu, kita yang pada akhirnya akan menjadi seorang dokter lupa bahwa salah satu tugas kita pun untuk melakukan pengabdian. Dengan cara apa? Pengabdian itu tentu dilakukan dengan cara memperbaiki status kesehatan Indonesia saat ini dengan kita tidak terpusat pada pasien-pasien kita yang memiliki banyak uang tapi memiliki sakit yang parah. Ketika kita harus memikirkan pengabdian, cobalah berpikiran untuk sejenak melihat orang-orang yang sakit parah tapi justru tidak memiliki uang.
Sudah banyak kita dengar, ketika ada sebuah rumah sakit yang tidak bisa memasukkan pasien-pasien mereka ketika pasien yang akan masuk ke kamar perawatan belum menyelesaikan administrasi mereka setengahnya. Atau dilain kasus, saat seorang dokter yang banyak memberikan obat yang sebenarnya tidak perlu diberikan hanya untuk memenuhi target pabrik obat padahal pasiennya itu hanya berbekal uang Rp. 35.000,-, itu pun mungkin merupakan pendapatannya hari itu yang mungkin saja saat uang itu habis, ia tidak bisa membeli makanan untuk satu hari itu. Ketika kita menemukan kasus-kasus seperti itu, kita perlu mempertanyakan dimana atau sudah lupakah dokter-dokter itu untuk memberikan pengabdiannya kepada negara melalui rakyat-rakyatnya.
Pengabdian dokter untuk Indonesia dapat kita lakukan melalui banyak hal. Jika kita mau, kita bisa mendirikan sebuah klinik cuma-cuma yang pada saat pasien datang, mereka boleh bayar dengan uang yang mereka punya. Atau jika kita belum mampu disitu, kita bisa melihat daerah sekeliling kita, coba kita lihat daerah di dekat rumah kita sudah baikkah keadaan lingkungan. Jangan lupa bahwa sebagai dokter/ orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan, hal yang harusnya lebih kita utamakan adalah tindakan promotif dan preventifnya, bukan diutamakan kuratif dan rehabilitatifnya.
Di Indonesia saat ini, masih sangat banyak daerah yang belum terjamah pelayanan kesehatan yang cukup memadai. Kadang di satu daerah masih ada satu puskesmas, puskesmasnya buka tapi dokternya tidak ada, entah dimana. Ini yang perlu kita lirik. Di daerah seperti itu biasanya lingkungan rumah mereka pun masih kurang baik keadaan kebersihannya, misanya dari keadaan MCKnya yang seadanya. Itu yang perlu kita bantu promosikan. Bentuk pengabdian kita, bisa kita lakukan dari hal kecil terlebih dahulu dengan cara membantu memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa kesehatan itu merupakan hal yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Kita bisa memberikan edukasi baik dengan memberikan pendidikan kepada masyarakatnya mengenai cara hidup bersih, melakukan kerja sama dengan stake holder setempat seperti pihak kelurahan atau yang lainnya untuk membantu menggerakan masyarakatnya untuk mau menjaga hidup bersih mereka dan pada akhirnya pihak pemerintahan setempat itulah yang menjadi pengawas keseharian hidup warganya. Selain itu, kita pun bisa melakukan balai pengobatan gratis berkala yang dalam programnya pun bisa kita lakukan pemeriksaan masyarakat melalui door to door.
Menurunkan Kadar Gula Darah
Bagaimana menurunkan kadar gula darah anda
Saran yang akan anda peroleh dibawah ini adalah saran yang luar biasa baik yang sudah diedit dari
seorang wanita bernama Jennifer, yang sudah membantu ribuan orang untuk menurunkan kadar gula darah
mereka ke level dimana hasil tes A1c menjadi sekitar 5%. Catatan : Jennifer yang menulis saran ini tidak
sama dengan Jenny yang ada di wbsite Blood Sugar 101.
Step 1: Langkah 1 : Makan seperti biasanya dan catat
Makan seperti biasanya, tetapi gunakan alat ukur gula darah anda untuk mengukur gula darah pada waktu
sebagai berikut
Tulis apa yg Anda makan dan hasil gula darah anda pada waktu :
Saat bangun pagi (puasa)
1 jam setelah makan
2 jam setelah makan
Dengan cara ini apa yang akan anda temukan adalah kapan gula darah anda akan mencapai titik tertinggi,
dan seberapa cepat gula darah anda akan kembali ke “normal”. Dan juga anda akan belajar bahwa
makanan seperti roti, buah dan sayuran yang mengandung pati/karbohidrat akan menaikkan gula darah
anda.
Langkah 2 : Untuk beberapa hari berikutnya kurangi konsumsi karbohidrat anda
Hilangkan roti, sereal, nasi, biji-bijian, makanan yang mengandung tepung gandum, kentang, jagung dan
buah. Penuhi kebutuhan karbohidrat anda hanya dari sayuran. Test menu makan yang sudah dimodifikasi
ini seperti jadwal di langkah 1. Lihat dampak pengurangan karbohidrat ini pada kadar gula darah anda.
Semakin dekat angka kadar gula anda seperti para non-diabetes maka semakin besar kesempatan anda
dalam menghindari komplikasi yang mengerikan.
Berikut adalah kadar gula darah normal yang menjadi acuan dokter pada saat ini :
Gula darah puasa Dibawah 100 mg/dl
1 jam setelah makan Dibawah 140 mg/dl
2 jam setelah makan Dibawah 120 mg/dl
Kalau saja anda bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dari ini maka teruskan saja. , The American
College of Clinical Endocrinologists menyarankan penderita diabetes untuk selalu menjaga gula darah
mereka dibawah 140 mg/dl 2 jam setelah makan.
Apabila anda sudah mencapai target kadar gula yang normal, maka perlahan anda bisa dengan hati-hati
menambahkan karbohidrat pada menu makan, tentu saja pastikan anda mengetes gula darah setiap setelah
makan. Hentikan menambahkankan karbohidrat begitu kadar gula anda naik mendekati batas diatas.
Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa gula darah setelah makan adalah kadar yang paling indikatif
dalam memprediksi komplikasi di masa yang akan datang terutama pada masalah jantung.
Langkah 3 : Tes, tes, tes Langkah 3 : Tes, tes, tes
Perlu diingat bahwa kita tidak berlomba dengan siapapun tetapi dengan diri kita sendiri. Rencanakan menu
makan anda. Tes, tes, dan tes untuk mengetahui makanan apa yang akan menaikkan gula darah.
Belajarlah untuk mengetahui makanan apa yang memberikan hasil terbaik pada kadar gula darah anda.
Tidak peduli apa yang dikatakan orang sekitar anda, selama suatu makanan menaikkan kadar gula darah
anda lebih tinggi dari target anda, maka hindarilah makanan tersebut. Alat pegukur kadar gula anda akan
memberitahukan makanan yang terbaik untuk diet diabetes anda sesuai dengan kondisi tubuh anda.
Gunakan dan peroleh kembali kesehatan anda.
ANEMIA
Anemia (dalam bahasa Yunani: ἀναιμία anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel darah merah, etiologi yang mendasari, dan penampakan klinis. Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya sel darah merah secara berlebihan hemolisis atau kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Seorang pasien dikatakan anemia bila konsentrasi hemoglobin (Hb) nya kurang dari 13,5 g/dL atau hematokrit (Hct) kurang dari 41% pada laki-laki, dan konsentrasi Hb kurang dari 11,5 g/dL atau Hct kurang dari 36% pada perempuan
Tanda dan gejala anemia[sunting | sunting sumber]
Gejala anemia :
Bila anemia terjadi dalam waktu yang lama, konsentrasi Hb ada dalam jumlah yang sangat rendah sebelum gejalanya muncul. Gejala- gejala tersebut berupa :
Asimtomatik : terutama bila anemia terjadi dalam waktu yang lama
Letargi
Nafas pendek atau sesak, terutama saat beraktfitas
Kepala terasa ringan
Palpitasi
Sedangkan, tanda-tanda dari anemia yang harus diperhatikan saat pemeriksaan yaitu :
Pucat pada membran mukosa, yaitu mulut, konjungtiva, kuku.
Sirkulasi hiperdinamik, seperti takikardi, pulse yang menghilang, aliran murmur sistolik
Gagal jantung
Pendarahan retina [1]
Tanda-tanda spesifik pada pasien anemia diantaranya :
Glossitis : terjadi pada pasien anemia megaloblastik, anemia defisiensi besi
Stomatitis angular : terjadi pada pasien anemia defisiensi besi.
Jaundis (kekuningan) : terjadi akibat hemolisis, anemia megaloblastik ringan.
Splenomegali : akibat hemolisis, dan anemia megaloblastik.
Ulserasi di kaki : terjadi pada anemia sickle cell
Deformitas tulang : terjadi pada talasemia
Neuropati perifer, atrofi optik, degenerasi spinal, merupakan efek dari defisiensi vitamin B12.
Garing biru pada gusi (Burton’s line), ensefalopati, dan neuropati motorik perifer sering terlihat pada pasien yang keracunan metal
Klasifikasi anemia akibat Gangguan Eritropoiesis[sunting | sunting sumber]
Anemia defisiensi Besi :
Tidak cukupnya suplai besi mengakibatkan defek pada sintesis Hb, mengakibatkan timbulnya sel darah merah yang hipokrom dan mikrositer.
Anemia Megaloblastik
Defisiensi folat atau vitamin B12 mengakibatkan gangguan pada sintesis timidin dan defek pada replikasi DNA, efek yang timbul adalah pembesaran prekursor sel darah (megaloblas) di sumsum tulang, hematopoiesis yang tidak efektif, dan pansitopenia.
Anemia Aplastik
Sumsum tulang gagal memproduksi sel darah akibat hiposelularitas. Hiposelularitas ini dapat terjadi akibat paparan racun, radiasi, reaksi terhadap obat atau virus, dan defek pada perbaikan DNA serta gen.
Anemia Mieloptisik
Anemia yang terjadi akibat penggantian sumsum tulang oleh infiltrate sel-sel tumor, kelainan granuloma, yang menyebabkan pelepasan eritroid pada tahap awal. [2]
Klasifikasi anemia berdasarkan ukuran sel
Anemia mikrositik : penyebab utamanya yaitu defisiensi besi dan talasemia (gangguan Hb)
Anemia normositik : contohnya yaitu anemia akibat penyakit kronis seperti gangguan ginjal.
Anemia makrositik : penyebab utama yaitu anemia pernisiosa, anemia akibat konsumsi alcohol, dan anemia megaloblastik. [3]
Senin, 30 Juni 2014
hipersensitivitas
Hipersensitivitas (atau reaksi hipersensitivitas) adalah reaksi berlebihan, tidak diinginkan karena terlalu senisitifnya respon imun (merusak, menghasilkan ketidaknyamanan, dan terkadang berakibat fatal) yang dihasilkan oleh sistem kekebalan normal. Hipersensitivitas merupakan reaksi imun tipe I, namun berdasarkan mekanisme dan waktu yang dibutuhkan untuk reaksi, hipersensitivitas terbagi menjadi empat tipe lagi: tipe I, tipe II, tipe III, dan tipe IV. Penyakit tertentu dapat dikarenakan satu atau beberapa jenis reaksi hipersensitivitas
Hipersensitivitas Tipe I
Hipersensitifitas tipe I disebut juga sebagai hipersensitivitas langsung atau anafilaktik. Reaksi ini berhubungan dengan kulit, mata, nasofaring, jaringan bronkopulmonari, dan saluran gastrointestinal. Reaksi ini dapat mengakibatkan gejala yang beragam, mulai dari ketidaknyamanan kecil hingga kematian. Waktu reaksi berkisar antara 15-30 menit setelah terpapar antigen, namun terkadang juga dapat mengalami keterlambatan awal hingga 10-12 jam. Hipersensitivitas tipe I diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE). Komponen seluler utama pada reaksi ini adalah mastosit atau basofil. Reaksi ini diperkuat dan dipengaruhi oleh keping darah, neutrofil, dan eosinofil.
Uji diagnostik yang dapat digunakan untuk mendeteksi hipersensitivitas tipe I adalah tes kulit (tusukan dan intradermal) dan ELISA untuk mengukur IgE total dan antibodi IgE spesifik untuk melawan alergen (antigen tertentu penyebab alergi) yang dicurigai. Peningkatan kadar IgE merupakan salah satu penanda terjadinya alergi akibat hipersensitivitas pada bagian yang tidak terpapar langsung oleh alergen). Namun, peningkatan IgE juga dapat dikarenakan beberapa penyakit non-atopik seperti infeksi cacing, mieloma, dll. Pengobatan yang dapat ditempuh untuk mengatasi hipersensitivitas tipe I adalah menggunakan anti-histamin untuk memblokir reseptor histamin, penggunaan Imunoglobulin G(IgG), hyposensitization (imunoterapi atau desensitization) untuk beberapa alergi tertentu.
Hipersensitivitas Tipe II
Hipersensitivitas tipe II diakibatkan oleh antibodi berupa imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin E (IgE) untuk melawan antigen pada permukaan sel dan matriks ekstraseluler. Kerusakan akan terbatas atau spesifik pada sel atau jaringan yang secara langsung berhubungan dengan antigen tersebut. Pada umumnya, antibodi yang langsung berinteraksi dengan antigen permukaan sel akan bersifat patogenik dan menimbulkan kerusakan pada target sel.[2]
Hipersensitivitas dapat melibatkan reaksi komplemen (atau reaksi silang) yang berikatan dengan antibodi sel sehingga dapat pula menimbulkan kerusakan jaringan. Beberapa tipe dari hipersensitivitas tipe II adalah:
- Pemfigus (IgG bereaksi dengan senyawa intraseluler di antara sel epidermal),
- Anemia hemolitik autoimun (dipicu obat-obatan seperti penisilin yang dapat menempel pada permukaan sel darah merah dan berperan seperti hapten untuk produksi antibodi kemudian berikatan dengan permukaan sel darah merah dan menyebabkan lisis sel darah merah), dan
- Sindrom Goodpasture (IgG bereaksi dengan membran permukaan glomerulus sehingga menyebabkan kerusakan ginjal).
Hipersensitivitas Tipe III
Hipersensitivitas tipe III merupakan hipersensitivitas kompleks imun. Hal ini disebabkan adanya pengendapan kompleks antigen-antibodi yang kecil dan terlarut di dalam jaringan. Hal ini ditandai dengan timbulnya inflamasi atau peradangan. Pada kondisi normal, kompleks antigen-antibodi yang diproduksi dalam jumlah besar dan seimbang akan dibersihkan dengan adanya fagosit. Namun, kadang-kadang, kehadiran bakteri, virus, lingkungan, atau antigen (spora fungi, bahan sayuran, atau hewan) yang persisten akan membuat tubuh secara otomatis memproduksi antibodi terhadap senyawa asing tersebut sehingga terjadi pengendapan kompleks antigen-antibodi secara terus-menerus. Hal ini juga terjadi pada penderita penyakit autoimun. Pengendapan kompleks antigen-antibodi tersebut akan menyebar pada membran sekresi aktif dan di dalam saluran kecil sehingga dapat memengaruhi beberapa organ, seperti kulit, ginjal, paru-paru, sendi, atau dalam bagian koroid pleksus otak.[4]
Patogenesis kompleks imun terdiri dari dua pola dasar, yaitu kompleks imun karena kelebihan antigen dan kompleks imun karena kelebihan antibodi. Kelebihan antigen kronis akan menimbulkan sakit serum (serum sickness) yang dapat memicu terjadinya artritis atau glomerulonefritis. Kompleks imun karena kelebihan antibodi disebut juga sebagai reaksi Arthus, diakibatkan oleh paparan antigen dalam dosis rendah yang terjadi dalam waktu lama sehingga menginduksi timbulnya kompleks dan kelebihan antibodi. Beberapa contoh sakit yang diakibatkan reaksi Arthus adalah spora Aspergillus clavatus dan A. fumigatus yang menimbulkan sakit pada paru-paru pekerja lahan gandum (malt) dan spora Penicillium casei pada paru-paru pembuat keju.
Hipersensitivitas Tipe IV
Hipersensitivitas tipe IV dikenal sebagai hipersensitivitas yang diperantarai sel atau tipe lambat (delayed-type). Reaksi ini terjadi karena aktivitas perusakan jaringan oleh sel T dan makrofag. Waktu cukup lama dibutuhkan dalam reaksi ini untuk aktivasi dan diferensiasi sel T, sekresi sitokin dan kemokin, serta akumulasi makrofag dan leukosit lain pada daerah yang terkena paparan. Beberapa contoh umum dari hipersensitivitas tipe IV adalah hipersensitivitas pneumonitis, hipersensitivitas kontak (kontak dermatitis), dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat kronis (delayed type hipersensitivity, DTH).[5]
Hipersensitivitas tipe IV dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori berdasarkan waktu awal timbulnya gejala, serta penampakan klinis dan histologis. Ketiga kategori tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
| Tipe | Waktu reaksi | Penampakan klinis | Histologi | Antigen dan situs |
|---|---|---|---|---|
| Kontak | 48-72 jam | Eksim (ekzema) | Limfosit, diikuti makrofag; edema epidermidis | Epidermal (senyawa organik, jelatang atau poison ivy, logam berat , dll.) |
| Tuberkulin | 48-72 jam | Pengerasan (indurasi) lokal | Limfosit, monosit, makrofag | Intraderma (tuberkulin, lepromin, dll.) |
| Granuloma | 21-28 hari | Pengerasan | Makrofag, epitheloid dan sel raksaksa, fibrosis | Antigen persisten atau senyawa asing dalam tubuh (tuberkulosis, kusta, etc.) |
sistem imunitas tubuh manusia

Pengertian, Fungsi dan Mekanisme Sistem Imun - Kita tahu sistem imun atau sistem pertahanan pada tubuh manusia sangat berguna untuk menjaga kita agar dapat beraktivitas seperti biasa. Dengan sistem imun kita dapat terhindar dari berbagai macam penyakit yang berada di sekitar kita. Oleh karena itu, admin Kidung Kawan kali ini akan sedikit berbagi ilmu dengan para pengunjung mengenai sistem imun pada manusia.
Pengertian Sistem Imun
Sistem imun adalah sistem pertahanan yang ada pada tubuh manusia yang berfungsi untuk menjaga manusia dari benda-benda yang asing bagi tubuh manusia. Pada sistem imun ada istilah yang disebut Imunitas. Imunitas sendiri adalah ketahanan tubuh kita atau resistensi tubuh kita terhadap suatu penyakit. Jadi sistem imun pada tubuh kita mempunyai imunitas terhadap berbagai macam penyakit yang dapat membahayakan tubuh kita.
Fungsi Sistem Imun
1. Pertahanan
2. Homeostasi tubuh
3. Peremajaan
Klasifikasi Sistem Imun
| Pengertian, Fungsi dan Mekanisme Sistem Imun Tubuh Manusia |
1. Sistem Imun Non-Spesifik / Innate / Non-Adaptif
Sistem imun non-spesifik adalah sistem imun yang melawan penyakit dengan cara yang sama kepada semua jenis penyakit. Sistem imun ini tidak membeda-bedakan responnya kepada setiap jenis penyakit, oleh karena itu disebut non-spesifik. Sistem imun ini bekerja dengan cepat dan selalu siap jika tubuh di datangkan suatu penyakit.a. Pertahanan Fisik / Mekanis
Pertahanan fisik dapat berupa kulit, lapisan mukosa / lendir, silia atau rambut pada saluran nafas, mekanisme batuk dan bersin. Pertahanan fisik ini umumnya melindungi tubuh dari penyakit yang berasal dari lingkungan atau luar tubuh kita. Pertahanan ini merupakan pelindung pertama pada tubuh kita.
b. Pertahanan Biokimia
Pertahanan biokimia ini adalah pertahanan yang berupa zat-zat kimia yang akan menangani mikroba yang lolos dari pertahanan fisik. Pertahanan ini dapat berupa pH asam yang dikeluarkan oleh kelenjar keringat, asam lambung yang diproduksi oleh lambung, air susu, dan saliva.
c. Pertahanan Humoral
Pertahanan ini disebut humoral karena melibatkan molekul-molekul yang larut unutk melawan mikroba. Biasanya molekul yang bekerja adalah molekul yang berada di sekitar daerah yang dilalui oleh mikroba. Contoh molekul larut yang bekerja pada pertahanan ini adalah Interferon (IFN), Defensin, Kateisidin, dan Sistem Komplemen.
d. Pertahanan Selular
Pertahanan ini melibatkan sel-sel sistem imun dalam melawan mikroba. Sel-sel tersebut ada yang ditemukan pada sirkulasi darah dan ada juga yang di jaringan. Neutrofil, Basofil, Eusinofil, Monosit, dan sel NK adalah sel sistem imun non-spesifik yang biasa ditemukan pada sirkulasi darah. Sedangkan sel yang biasa ditemukan pada jaringan adalah sel Mast, Makrofag dan sel NK.
2. Sistem Imun Spesifik / Adaptif
Sistem Imun Spesifik adalah sistem imun yang membutuhkan pajanan atau bisa disebut harus mengenal dahulu jenis mikroba yang akan ditangani. Sistem imun ini bekerja secara spesifik karena respon terhadap setiap jenis mikroba berbeda. Karena membutuhkan pajanan, sistem imun ini membutuhkan waktu yang agak lama untuk menimbulkan respon. Namun jika sistem imun ini sudah terpajan oleh suatu mikroba atau penyakit, maka perlindungan yang diberikan dapat bertahan lama karena sistem imun ini mempunyai memory terhadap pajanan yang didapat. Sistem imun ini dibagi menjadi 2 :
a. Sistem Imun Spesifik Humoral
Yang paling berperan pada sistem imun spesifik humoral ini ada Sel B atau Limfosit B. Sel B ini berasal dari sumsum tulang dan akan menghasilkan sel Plasma lalu menghasilkan Antibodi. Antibodi inilah yang akan melindungi tubuh kita dari infeksi ekstraselular, virus dan bakteri, serta menetralkan toksinnya.
b. Sistem Imun Spesifik Selular
Pada sistem imun ini, sel T atau Limfosit T yang paling berperan. Sel ini juga berasal dari sumsum tulang, namun dimatangkan di Timus. Fungsi umum sistem imun ini adalah melawan bakteri yang hidup intraseluler, virus, jamur, parasit dan tumor. Sel T nantinya akan menghasilkan berbagai macam sel, yaitu sel CD4+ (Th1, Th2), CD8+, dan Ts (Th3).
Mekanisme Respon Imun
Ketika mikroba masuk ke dalam tubuh manusia, mikroba tersebut akan melewati 3 lapis pertahanansistem imun. Pertahanan lapis pertama berisi sistem imun non-spesifik terutama fisik/mekanis, biokimia, dan humoral. Pertahanan ini akan mencegah masuknya mikroba masuk ke dalam tubuh. Pertahanan lapis kedua berisi sistem imun non-spesifik khususnya yang selular. Pertahanan selular ini nantinya akan mencegah mikroba yang berhasil masuk ke dalam tubuh dengan menghancurkannya. Pertahanan ketiga adalah sistem imun spesifik yang telah dibahas di atas. Ini akan menangani mikroba yang masih belum ditangani oleh sistem imun non-spesifik.
Faktor yang Mempengaruhi Sistem Imun
1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Lingkungan
Demikianlah pembahasan tentang sistem imun kali ini, semoga bermanfaat bagi para pembaca.
Sumber :
-Dra. Agnes Sri Harti, M.Si. : Imunologi Dasar & Imunologi Klinis, Graha Ilmu, Yogyakarta
-Karnen Garna Baratawidjaja, Iris Rengganis : Imunologi Dasar Ed.8, FKUI, Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)




